Baca Juga: Awal 2026, Wakil Bupati Subang minta ASN tak sekadar hadir, tapi jadi pemberi solusi nyata
Rakit jadi akses vital warga dan relawan
Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat kejadian tersebut berlangsung, pembangunan jembatan darurat di Sungai Kala Ili belum selesai.
Akibatnya, rakit kayu menjadi satu-satunya akses penghubung bagi warga, relawan kesehatan, dan distribusi bantuan menuju Kampung Owaq serta wilayah Kemukiman Wih Dusun Jamat.
Setiap penyeberangan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Selain arus deras, faktor cuaca dan kondisi rakit yang seadanya menambah risiko kecelakaan.
Jembatan apung darurat akhirnya dibangun
Kini, kondisi di Sungai Kala Ili mulai membaik. Warga bersama aparat TNI dan Polri telah membangun jembatan apung darurat untuk menghubungkan kembali wilayah yang sempat terisolir.
Jembatan apung tersebut dibuat menggunakan drum dan kayu sebagai struktur utama.
Keberadaannya memungkinkan warga menyeberang dengan lebih aman dibandingkan rakit manual sebelumnya.
Menurut informasi dari warga setempat, jembatan apung darurat ini sudah cukup kuat untuk dilalui kendaraan roda dua (R2), sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan bisa kembali berjalan.
Meski bersifat sementara, jembatan apung tersebut menjadi harapan baru bagi warga Kecamatan Linge agar aktivitas ekonomi, layanan kesehatan, dan pendidikan bisa perlahan pulih pascabencana.***