“Harusnya di tahap pra-bencana sudah ada sosialisasi, pendidikan kebencanaan, dan mitigasi yang kuat,” ujarnya.
Ia membandingkan dengan daerah lain seperti Yogyakarta dan Lumajang, di mana masyarakat relatif lebih siap saat menghadapi erupsi gunung berapi karena telah memiliki pemahaman yang baik tentang jalur evakuasi dan prosedur keselamatan.
“Ketika Gunung Merapi atau Semeru meletus, warga tidak panik berlebihan karena sudah tahu harus ke mana dan berbuat apa,” tambahnya.
Jawab dinamika persepsi publik
Trubus menilai, langkah Seskab Teddy yang menjelaskan penanganan bencana secara detail setidaknya mampu menjawab dinamika persepsi publik yang berkembang luas di masyarakat.
“Ini menjawab keresahan publik, paling tidak menjelaskan dinamika yang terjadi di ruang persepsi masyarakat, karena bencana ini memang memunculkan beragam penilaian,” katanya.
Baca Juga: Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera
Sebelumnya, Seskab Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa sejak hari pertama bencana terjadi pada 26 November 2025, pemerintah pusat dan daerah telah bergerak bersama melakukan penanganan berskala nasional.
Ia juga menepis narasi yang menyebut pemerintah tidak bekerja dalam menghadapi bencana tersebut.
“Kita butuh kerja sama, kekompakan, dan energi positif. Kalau niat membantu, ayo sama-sama hibur warga, bangun optimisme, dan hadirkan senyum,” ujar Teddy.
Menurutnya, semangat saling membantu dan saling mendukung menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana.***