Menurut pengamat Timur Tengah, posisi Mesir sebagai tuan rumah menunjukkan kuatnya pengaruh Washington dalam mengatur jalannya perundingan Gaza kali ini.
Israel: Perang akan dilanjut jika gagal damai
Sementara itu, dari Tel Aviv, militer Israel menegaskan belum ada rencana untuk mematuhi gencatan senjata hingga hasil perundingan benar-benar pasti.
“Situasi operasional telah berubah, dan pencapaian militer kini diarahkan untuk keuntungan diplomatik. Namun, jika upaya politik gagal, kami akan kembali berperang,” ujar Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, dalam pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel.
Baca Juga: Pilu istri Nadiem Makarim usai pantau sidang praperadilan: Anak-anak tiap hari tanyakan sang ayah
Hamas: Kami tidak terlibat dalam rencana Amerika
Pejabat senior Hamas, Taher Al Nounou, membantah pihaknya ikut dalam penyusunan rencana damai versi AS.
“Kami bukan bagian dari negosiasi atau rencana Amerika saat ini,” ujar Al Nounou, dikutip dari Middle East Monitor.
Ia menegaskan bahwa pembebasan sandera hanya mungkin terjadi jika pendudukan Israel di Gaza benar-benar dihentikan.
“Senjata perlawanan kami terikat dengan pembentukan negara Palestina,” tegasnya.
Meski begitu, Hamas tetap menyatakan kesediaan untuk meninjau isi rencana AS sejauh tidak melanggar hak dan kedaulatan rakyat Palestina.
Kini, publik menanti apakah perundingan di Kairo akan menjadi pintu masuk menuju perdamaian permanen, atau sekadar babak baru dalam drama panjang konflik Gaza.***