GENMILENIAL.ID – Amerika Serikat akhirnya mengirim surat resmi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah menuai kecaman dunia atas serangan ke tiga fasilitas nuklir utama Iran.
Dalam surat tersebut, AS menyebut serangan itu sebagai langkah 'pembelaan diri' guna mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Tiga fasilitas yang menjadi target serangan pada 20 Juni 2025 lalu adalah Natanz, Fordow, dan Isfahan, lokasi penting yang selama ini dikaitkan dengan aktivitas pengayaan uranium oleh pemerintah Iran.
Baca Juga: Setelah Iran-Israel, Trump incar Afrika: Klaim tengah damai Kongo-Rwanda lewat mediasi AS
Dalam surat yang disampaikan oleh Duta Besar AS untuk PBB, Dorothy Shea, disebutkan bahwa serangan tersebut bertujuan 'menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir Iran dan menghentikan ancaman bahwa rezim nakal ini mendapatkan dan menggunakan senjata nuklir.'
AS menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan berdasarkan hak pembelaan diri kolektif sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB.
Dari serangan ke gencatan senjata
Serangan ini memicu reaksi keras dari Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Doha, Qatar, hanya beberapa jam setelah serangan udara AS terjadi.
Ketegangan ini nyaris menyeret kawasan Timur Tengah dalam perang besar.
Namun, tekanan internasional dan kekhawatiran atas eskalasi lebih lanjut mendorong Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata, yang juga mengakhiri konflik 12 hari antara Iran dan Israel.
Korban jiwa dan kerusakan meluas
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Iran menunjukkan bahwa 627 orang tewas dan 4.870 lainnya luka-luka selama perang berlangsung.
Daerah yang terdampak paling parah termasuk Teheran, Kermanshah, Khuzestan, Lorestan, dan Isfahan.