Haedar juga menyampaikan, meski konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina berada di Timur Tengah namun vibrasinya sampai ke Indonesia.
Meskipun demikian kerukunan bangsa Indonesia masih baik, termasuk kerukunan umat beragama juga masih terjaga.
Pada kesempatan ini Haedar juga membuka diri untuk saling berbagi tentang perkembangan Indonesia, khususnya tentang umat beragama di Indonesia yang begitu majemuk ini.
Muhammadiyah pada dasarnya sesuai Kepribadiannya, yakni bersifat inklusif untuk bekerja sama dengan berbagai pihak.
Baca Juga: Pesan Prabowo untuk pimpinan KPK yang baru: Korupsi diberantas dengan tegas!
Sementara itu, Dubes Kamala menyampaikan bahwa saat ini AS sepakat untuk solusi dua negara berdaulat untuk Israel dan Palestina.
Tidak hanya isu Israel dan Palestina, saat ini dunia termasuk juga Amerika terus mendorong perdamaian di berbagai belahan dunia yang lain. Termasuk konflik kemanusiaan yang terjadi di Suriah.
“Kita juga sekarang melihat situasi untuk akses bersama-sama, kita juga sedang bekerja keras untuk gencatan senjata Israel dan Palestina. Amerika dan Indonesia juga bekerja sama untuk membantu, termasuk bantuan kemanusiaan,” katanya.
Dubes Kamal berharap perdamaian tidak hanya dihadirkan oleh negara, tapi juga dibantu oleh organisasi non pemerintah.
Muhammadiyah, kata Dubes Kamal memiliki peran penting untuk menjalin perdamaian antar umat beragama di Indonesia bahkan di dunia.
Ia juga menyebut bahwa usaha membangun perdamaian global juga sangat dipengaruhi oleh saling terpautnya umat manusia dengan media sosial.
Dubes Kamala menyoroti media sosial juga menjadi tantangan tersendiri untuk umat manusia sekarang.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam ini selain membicarakan isu perdamaian global seperti antara Israel dan Palestina, juga membicarakan isu-isu strategis lain seperti di bidang pendidikan, kesehatan, termasuk juga menyinggung tentang bidang ekonomi yang bisa dikerjasamakan antara Indonesia dengan Amerika Serikat.***