Sementara itu, pihak PT Feni Halmahera Timur menyatakan telah melakukan evaluasi internal serta pemeriksaan lapangan.
Perusahaan mengklaim perubahan warna air dipengaruhi tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Isu teror pocong viral, Polres Subang tingkatkan patroli antisipasi kejahatan
Manajemen juga mengaku telah menurunkan tim teknis dan lingkungan untuk melakukan investigasi lebih lanjut, termasuk mengevaluasi sistem pengendalian sedimentasi.
Selain itu, perusahaan menyatakan terbuka terhadap proses verifikasi dan evaluasi dari pemerintah guna memastikan penanganan dilakukan secara objektif dan berbasis data.
Publik tunggu hasil investigasi
Hingga kini, berbagai pihak masih menunggu hasil pemeriksaan dari pemerintah untuk memastikan penyebab pasti perubahan kondisi perairan di Kali Kukuba dan Teluk Buli.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa aktivitas pertambangan di kawasan strategis nasional harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap prinsip perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.***
Artikel Terkait
Transisi energi bersih bikin warga aman dari pencemaran lingkungan? inilah 4 strategi yang bisa dicanangkan Prabowo-Gibran
Ratusan aktivis dan budayawan soroti krisis lingkungan nasional dalam Gunem Alam di Sumedang
Pegiat lingkungan Cisarua tegaskan longsor bukan semata alih fungsi lahan: Petani jangan dijadikan kambing hitam
Arahan Presiden Prabowo, Polres Subang gaspol bersihkan lingkungan dan kawasan wisata
Sampah jadi ancaman serius, Bupati Subang tegaskan lingkungan bersih modal cegah banjir dan bangun daerah
Atap daur ulang masuk program bedah rumah Jogja, Alduro tawarkan hunian sejuk dan ramah lingkungan
Samsara Bamboo Festival 2026 angkat bambu sebagai solusi lingkungan dan ekonomi hijau di Bali