GENMILENIAL.ID – Kasus dugaan penipuan riset yang menyeret Rifaldy Fajar dan Prihantini masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Dugaan tersebut mencuat usai Prihantini mempresentasikan hasil penelitian dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17–21 Mei 2026.
Sejumlah peneliti menyoroti kejanggalan dalam riset tersebut, mulai dari isi penelitian hingga tampilan poster yang disebut hanya dicetak menggunakan kertas HVS ukuran A4.
Hal ini kemudian memicu berbagai kritik dari komunitas ilmiah.
Baca Juga: Viral dugaan penipuan riset di konferensi internasional, bagaimana bisa lolos seleksi?
Menanggapi polemik yang berkembang, Rifaldy Fajar akhirnya buka suara melalui akun media sosialnya. Ia menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Akui lakukan kekeliruan
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun Instagram @rifaldy.fajar04 pada Selasa, 26 Mei 2026, Rifaldy mengakui adanya kesalahan dari pihaknya.
“Sebelumnya, sehubungan dengan adanya kasus konferensi internasional di Denmark 2026 yang menyeret nama kami, kami memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kegaduhan dan kesalahan yang telah kami perbuat,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan penyesalan atas keputusan yang diambil bersama timnya hingga berdampak pada berbagai pihak.
Baca Juga: Diduga riset bodong di ISPPD 2026, periset RI ungkap dampaknya: Memalukan dan rugikan yang lain
“Kami benar-benar menyesali tindakan dan keputusan kami yang pada akhirnya juga berdampak pada beberapa pihak serta event terkait. Kami menyadari bahwa terdapat sejumlah kekeliruan dari pihak kami,” lanjutnya.
Rifaldy menjelaskan bahwa dalam konferensi tersebut, hanya Prihantini yang hadir secara langsung.
Sementara anggota tim lainnya memiliki agenda di lokasi berbeda, seperti Bangkok, Seoul, dan Indonesia.
Artikel Terkait
Ilmuwan ungkap tanah longsor berpotensi terjadi usai kebakaran Los Angeles, ancaman baru untuk rumah yang selamat dari kobaran api
Rekam jejak Menteri Satryo yang didemo anak buahnya hingga dituding arogan: Lahir di Belanda hingga dikenal sebagai ilmuwan di Kampus ITB
Ilmuwan ungkap iklim bulan Januari mencapai rekor, singgung soal adanya tanda kerusakan bumi
Raih 2 hibah riset sekaligus, akademisi ITB dorong desain jadi kunci pengembangan kota dan industri
Sorotan khusus: Dugaan riset bodong WNI di ISPPD 2026 tuai kritik, kredibilitas ilmuwan RI dipertaruhkan
Diduga riset bodong di ISPPD 2026, periset RI ungkap dampaknya: Memalukan dan rugikan yang lain
Viral dugaan penipuan riset di konferensi internasional, bagaimana bisa lolos seleksi?