Viral dugaan penipuan riset di konferensi internasional, bagaimana bisa lolos seleksi?

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Selasa, 26 Mei 2026 | 23:34 WIB
Menyoroti lolosnya penelitian Rifaldy Fajar cs di konferensi ilmiah internasional di Denmark (Instagram/w.o.d.d)
Menyoroti lolosnya penelitian Rifaldy Fajar cs di konferensi ilmiah internasional di Denmark (Instagram/w.o.d.d)

GENMILENIAL.ID – Dugaan penipuan riset yang menyeret nama Rifaldy Fajar dan Prihantini tengah menjadi sorotan publik.

Kasus ini mencuat setelah keduanya diketahui mengikuti konferensi ilmiah internasional International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark pada 17–21 Mei 2026.

Dugaan tersebut pertama kali diungkap oleh sesama periset asal Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika, yang kemudian diperkuat oleh peneliti lain, Wa Ode Dwi Daningrat.

Keduanya membagikan kronologi serta sejumlah kejanggalan terkait riset yang dibawa oleh tim Rifaldy dan Prihantini.

Baca Juga: Diduga riset bodong di ISPPD 2026, periset RI ungkap dampaknya: Memalukan dan rugikan yang lain

Seiring viralnya kasus ini di media sosial, warganet turut menemukan fakta bahwa keduanya bukan pertama kali mengikuti konferensi ilmiah internasional.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai proses seleksi dalam forum ilmiah bergengsi tersebut.

Seleksi hanya berdasarkan abstrak

Wa Ode Dwi Daningrat menjelaskan bahwa salah satu alasan riset yang diduga tidak valid bisa lolos adalah karena proses seleksi yang hanya berfokus pada abstrak.

Dalam unggahannya di Instagram, Dwi menyebut bahwa pihak penyeleksi harus memeriksa ribuan abstrak dalam waktu terbatas, sehingga tidak memungkinkan untuk mengecek keseluruhan isi penelitian.

Baca Juga: Borong 4 medali, atlet Kodim 0605 Subang bersinar di Piala Pangdam III Siliwangi 2026

“Faculty member atau yang memeriksa itu, dia memeriksa ribuan abstract. ISPPD itu nyaris 1.000 abstrak yang di-submit dan yang diperiksa itu cuma 300 kata saja,” ujarnya dalam video yang diunggah pada Selasa, 26 Mei 2026.

Menurutnya, abstrak yang ditulis dengan bahasa ilmiah yang kompleks, terlebih jika dibantu kecerdasan buatan (AI), berpotensi terlihat meyakinkan meskipun tidak didukung data valid.

“Bayangkan saja kalau itu ditulis AI dan pakai kata-kata yang fancy di bidang yang menggabungkan keilmuan, itu bisa terlihat seperti penelitian baru. Tapi yang diperiksa tidak melihat posternya secara keseluruhan,” jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X