2 Kapal kargo MSC di Selat Hormuz digeruduk pasukan bertopeng, AS sebut aksi perompakan

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Kamis, 23 April 2026 | 21:23 WIB
Menyoroti skandal penyitaan 2 kapal kargo di perairan Selat Hormuz oleh pasukan bertopeng (X.com/@mog_russEN)
Menyoroti skandal penyitaan 2 kapal kargo di perairan Selat Hormuz oleh pasukan bertopeng (X.com/@mog_russEN)

Pasukan naiki kapal dengan tangga

Dalam video yang beredar, terlihat pasukan bertopeng mendekati kapal kargo menggunakan perahu kecil berkecepatan tinggi.

Baca Juga: Syekh Ahmad Al Misry bantah tudingan pelecehan dan isu kabur ke Mesir, tantang bukti video

Mereka kemudian menaiki lambung kapal dengan menggunakan tangga, sebelum akhirnya masuk ke bagian dalam kapal.

Aksi serupa juga terlihat dilakukan terhadap kapal lainnya dalam insiden tersebut.

Dua kapal kargo tersebut diketahui berbendera Panama dan Liberia. Keduanya diduga disita karena beroperasi tanpa izin serta melakukan manipulasi sistem navigasi.

AS sebut sebagai aksi perompakan

Di tengah klaim dari pihak Iran, pemerintah Amerika Serikat justru menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perompakan di perairan internasional.

Baca Juga: Polres Subang sita ratusan botol miras ilegal dalam patroli malam

Gedung Putih melalui juru bicaranya, Karoline Leavitt, menyebut bahwa kapal yang disita bukan milik Amerika Serikat maupun Israel, melainkan kapal internasional.

“Ini bukan kapal AS atau Israel, melainkan kapal internasional,” ujarnya dikutip dari laporan NY Post.

Ia juga menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan pasukan yang disebut sebagai Garda Revolusi Iran itu merupakan aksi perampokan.

Sementara itu, otoritas maritim Inggris dilaporkan menyebut adanya kerusakan pada kapal akibat tembakan dan lemparan granat dari kapal cepat.

Baca Juga: Ketua KONI Subang harus bersinergi dengan pemda, Elita Budiati soroti momentum Musorkablub 2026

Insiden ini pun memicu perdebatan di kalangan publik internasional, apakah tindakan tersebut merupakan penegakan hukum maritim oleh Iran atau justru bagian dari dinamika konflik geopolitik yang lebih luas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X