“Pas gue ngontrak di Cikarang, gedor maksa minta Rp35.000 buat obat nyamuk di bak. Maksa terus, dongkol banget,” tulis akun @permatasiska13.
Baca Juga: Bajidor Subang kembali menggema di Milangkala ke-78, warisan budaya yang terus dijaga
Ada pula yang menyebut modus serupa dilakukan dengan alasan sumbangan kegiatan keagamaan.
“Sampai Bekasi kota tuh, minta-minta sumbangan biasanya segerombolan emak-emak yang datang dengan alasan buat Maulid, buat anak yatim, dan lainnya. Emang nggak ada sopannya, pagar rapat dan tinggi aja digedor,” tulis akun @machik_chika.
“Sering banget kayak gitu, kalau nggak keamanan Rp25.000 ya tukang semprot nyamuk, mana maksa Rp20.000,” tulis akun @dii****r.
Modus lama terus terulang
Fenomena ini disebut bukan hal baru. Sebelumnya, aparat kepolisian pernah menangkap dua perempuan yang melakukan pungutan liar dengan mengatasnamakan program pemerintah.
Baca Juga: Penumpang TransJakarta ngaku kecopetan di bus 6A arah Balai Kota, HP terlacak hingga Mampang
Dalam kasus tersebut, pelaku meminta uang kepada warga dengan dalih iuran kontrol lingkungan untuk keamanan, dengan nominal sekitar Rp35.000 per rumah, baik untuk penghuni kontrakan maupun kos-kosan.
Kejadian ini pun memicu keresahan warga, terutama yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti Cikarang.
Warga diimbau untuk tetap waspada dan tidak mudah memberikan uang kepada pihak yang tidak jelas identitasnya.***
Artikel Terkait
Polisi bongkar pabrik narkoba di Cikarang, jaringan tembakau sintetis senilai Rp21 miliar edarkan barang via Instagram
Viral dugaan pungli ke relawan bencana Aceh di Palembang, Dishub klaim pelaku bukan anggotanya
Viral dugaan pungli mobil relawan Aceh di Palembang, BPTD Sumsel ancam polisikan sopir dan penyebar video
Viral dugaan pungli Rp500 ribu di Medan, oknum ngaku Dishub terekam kamera
Diduga microsleep, mobil nyungsep tabrak pekarangan rumah di Cikarang Utara
Dari gerimis jadi badai, warga Cikarang Selatan ungkap momen mencekam saat atap rumah berterbangan
Jembatan Cirahong sepi penjaga usai viral pungli, warga malah merasa tak aman