Kedalaman air yang terus berkurang membuat kapal berukuran besar kesulitan melintas, terutama saat air surut.
“Sekarang makin dangkal, kapal besar susah lewat. Kadang harus nunggu air pasang dulu baru bisa jalan,” kata nelayan lainnya, Masna.
Situasi ini dinilai semakin memperburuk kondisi nelayan yang bergantung pada kelancaran akses sungai untuk mencari nafkah.
Baca Juga: 29 Santri gagal terbang meski punya boarding pass, Super Air Jet ungkap kronologi
Normalisasi dinilai belum maksimal
Para nelayan menilai upaya normalisasi sungai yang dilakukan selama ini belum optimal.
Pengerukan yang hanya dilakukan sekitar satu kali dalam setahun dianggap tidak mampu mengimbangi laju pendangkalan dan penumpukan sampah.
Mereka pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui pembersihan sampah secara rutin maupun pengerukan lumpur yang lebih intensif.
Upaya tersebut dinilai penting agar akses nelayan kembali lancar dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Subang tetap berjalan.***
Artikel Terkait
Banjir lumpuhkan aktivitas belajar, puluhan sekolah di Pantura terpaksa alihkan KBM ke daring
DPRD Subang turun ke lokasi banjir Pantura, soroti curah hujan tinggi dan sistem drainase
Banjir meluas di Pantura Subang, Kang Rey pilih ngantor di lokasi dan desak normalisasi sungai
Ketua DPRD Subang tegaskan solusi permanen banjir Pantura, embung 1,2 hektar masuk skema perencanaan
Sosok Tita Andriani: Bank Sampah jadi solusi sampah di Subang, terinspirasi kepedulian KDM
Viral mobil MBG dipakai angkut sampah di Nabire, BGN langsung bekukan operasional SPPG
Sekolah di Subang ini lawan sampah dari hulu, bank sampah dan maggot jadi andalan