Tak hanya itu, Gimah juga sempat melontarkan gagasan agar puncak Gunung Semeru ditutup menggunakan semen demi menghentikan erupsi.
Ia menyadari ide tersebut sulit diwujudkan, namun menurutnya itu menggambarkan kepanikan warga yang lelah hidup dalam ketidakpastian.
“Kalau gunungnya bisa ditutup, coba tanya ibu-ibu yang lain, bisa tidak ya ditutup,” ujarnya.
Ia bahkan menambahkan bahwa meski semen dikumpulkan dari seluruh Indonesia, tetap tidak akan mampu menutup sumber api Semeru.
“Se-Indonesia dibawakan semen juga tidak akan nutup separuhnya,” katanya.
Rumah tertutup abu vulkanik
Gimah juga menceritakan dampak langsung erupsi Semeru terhadap kehidupannya. Abu vulkanik menutupi rumah dan lingkungan tempat tinggalnya saat erupsi November 2025.
“Saya lahir dan besar di sini, pahitnya erupsi saya tahu betul,” ungkapnya.
Baca Juga: Gaji John Herdman di Timnas Indonesia disorot, lebih rendah dari Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert
“Rumah saya tertutup abu, semuanya kena,” sambung Gimah.
Meski begitu, ia bersyukur dirinya dan sang suami selamat dari bencana tersebut.
Motor jadi penyelamat nyawa
Dalam kisah pilunya, Gimah mengungkapkan bahwa sepeda motor kesayangannya sempat menjadi alat penyelamat saat erupsi terjadi.
Ia dan suami menyelamatkan diri menggunakan motor, sebelum akhirnya harus meninggalkannya di tengah medan berbahaya.
Artikel Terkait
Jasa pendamping diduga agar pendaki tidak nyasar di ladang ganja Semeru, BBTNBTS sebut untuk memberdayakan masyarakat
Viral penemuan ladang ganja di Kawasan Gunung Bromo, ini dampak pada jalur pendakian Bromo dan Semeru
Status Semeru naik ke Level IV Awas: Awan panas beruntun, guguran lava kian intens
Semeru masih level awas, PVMBG minta warga jauhi radius 8 km dan waspadai lahar dingin
Masih berstatus Awas, Gunung Semeru tetap steril radius 8 km: Aktivitas vulkanik belum reda
Influencer Sherly Annavita soroti video viral warga Malut seberangi sungai deras tanpa jembatan
Hilang sejak akhir Desember 2025, pendaki Gunung Slamet Syafiq Ali ditemukan meninggal dunia