“Yang kedua perencanaan dan antisipasi yang rendah dari kita semua sebagai bangsa,” imbuhnya.
Pernyataan keras: Kiamat sudah terjadi
Dalam pernyataan yang lebih tegas, Cak Imin menyebut bencana besar di Sumatera sebagai 'kiamat akibat kelalaian manusia'.
“Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu memicu perhatian publik karena menjadi salah satu kritik paling tajam terhadap kebijakan lingkungan dan tata ruang pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Konteks bencana di Sumatera
Sejak akhir November 2025, tiga provinsi di Sumatera mengalami banjir bandang, banjir luapan, hingga tanah longsor besar.
Ribuan warga mengungsi, ratusan rumah rusak berat, akses jalan terputus, dan beberapa wilayah sempat terisolasi.
Basarnas, BNPB, TNI, dan berbagai lembaga pemerintah telah melakukan evakuasi dan distribusi logistik, namun banyak pihak menilai kerusakan hulu, mulai dari pembukaan lahan, pertambangan, hingga berkurangnya kawasan resapan, membuat dampak bencana berlipat ganda.***
Artikel Terkait
Sumbar dinilai lebih pulih dibanding Sumut dan Aceh pascabencana, OMC terus digencarkan
Tragedi banjir–longsor di Sumatera picu desakan status bencana nasional, koalisi sipil soroti transportasi terputus
Viral surat Bupati Aceh Tengah akui tak mampu tangani bencana, BNPB: Akses darat masih putus dan jadi prioritas nasional
Mendagri Tito Karnavian: Penjarahan di Sumatera karena warga lapar, pemerintah sudah all out tangani bencana
Basarnas catat 447 korban meninggal akibat bencana Sumatera, ratusan hilang dan korban luka belum tertangani
Kepala BNPB akui salah nilai bencana di Tapanuli Selatan, minta penanganan dipercepat dan soroti pengungsi terlalu lama di tenda
Asrama pesantren di Bireuen ambruk usai banjir bandang, kerugian ditaksir Rp6 miliar, ratusan santri mengungsi