Prasetyo menjelaskan, asesmen dari Kementerian PUPR ke depan juga akan mencakup lembaga pendidikan berbasis agama lain serta rumah ibadah, untuk memastikan keselamatan dan standar bangunan sesuai aturan.
Presiden Prabowo soroti pendidikan dan kemandirian santri
Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, Presiden Prabowo disebut ingin agar para santri dibekali keahlian teknologi dan ekonomi, agar mampu bersaing di masa depan.
“Harapannya para santri memiliki bekal yang lengkap, tidak hanya dari sisi akhlak dan keagamaan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi,” jelas Prasetyo.
Ia menambahkan, Prabowo juga mendukung pelatihan santri di bidang konstruksi dan teknik sipil melalui kerja sama dengan Kementerian PUPR.
“Harapannya, saat pesantren membangun fasilitas baru, ada santri yang punya keahlian dalam pendirian bangunan,” tandasnya.
Enam tahun perjalanan usulan Ditjen Pesantren
Gagasan pembentukan Ditjen Pesantren bukan hal baru. Usulan ini telah bergulir sejak 2019 di era Menag Lukman Hakim Saifuddin, kemudian kembali diajukan pada 2021 dan 2023 oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas.
Terakhir, pada 2024 di era Menag Nasaruddin Umar, usulan tersebut kembali disampaikan ke Kemenpan-RB dan baru mendapat restu dari Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2025.***
Artikel Terkait
Menag ungkap peluang ibadah haji dan umrah gunakan kapal laut, sebut Saudi kini lebih terbuka
Kabar duka, eks Menag Suryadharma Ali meninggal dunia di usia 69 tahun
PPP Subang gelar LKKD di pesantren, targetkan kader jadi penggerak dan rebut 5 kursi di 2029
Pesantren sebagai jawaban generasi digital: Menjaga adab, menumbuhkan pikiran kritis
Menag Nasaruddin Umar: Profesi guru adalah amal jariyah, bukan sekadar cari uang
Fakta baru di balik ambruknya Ponpes Al Khoziny: Hanya 50 dari 42 ribu pesantren di Indonesia yang punya izin bangunan
Menag akui minimnya anggaran pesantren, pembangunan ulang Ponpes Al Khoziny akan dibiayai APBN