Baca Juga: IFG dukung AAUI Bali Rendezvous 2025: Dorong kolaborasi dan transformasi industri asuransi nasional
“Saya anggap kebijakan ini bagus, tapi kalau gagal bayar bisa berbahaya buat rakyat. Misalnya China minta kompensasi wilayah seperti Natuna Utara,” ujarnya.
Mahfud juga mencontohkan kasus serupa yang menimpa Sri Lanka, ketika pelabuhan negaranya diambil alih akibat gagal membayar utang ke China.
Menkeu Purbaya: Jangan bebani negara
Sebelumnya, Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan menanggung utang Whoosh menggunakan APBN.
“KCIC berada di bawah Danantara. Mereka sudah punya manajemen sendiri dengan dividen mencapai Rp80 triliun per tahun. Jadi harus dikelola dari situ, jangan minta lagi ke negara,” jelasnya dalam media gathering di Bogor, 10 Oktober 2025.
Ia menegaskan perlunya pemisahan antara pengelolaan sektor swasta dan pemerintah.
“Kalau enak di swasta, ya jangan kalau rugi dibebankan ke pemerintah,” tegasnya.***
Artikel Terkait
86 Kepala daerah siap ikuti retret gelombang II di IPDN Jatinangor, Wamendagri: Gunakan kereta cepat Whoosh ke Bandung
Operasional kereta cepat Whoosh sering terganggu akibat layang-layang, KCIC catat 20 kejadian di Juni
MAKI serahkan bukti baru ke KPK, ungkap ART dan tukang pijat ikut kuota haji 2024
Polemik utang Whoosh Rp116 triliun: Menkeu Purbaya tegas tolak gunakan APBN, Danantara siapkan skema pembayaran
KPK soroti program Makan Bergizi Gratis, fokus pada tata kelola, efektivitas, dan transparansi
KPK dalami dugaan korupsi kuota haji 2024, telusuri peran asosiasi dan aliran dana ke Kemenag
Luhut tegaskan utang Whoosh tak sentuh dana APBN: Tunggu Keppres restrukturisasi dan minta publik pahami data sebelum komentar