Keracunan massal jadi alarm serius, BGN nonaktifkan 56 dapur MBG dan muncul usulan kantin sekolah jadi dapur lokal

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Rabu, 1 Oktober 2025 | 21:39 WIB
Kualitas layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG tengah menuai sorotan tajam buntut kasus keracunan massal (Dok. BGN)
Kualitas layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG tengah menuai sorotan tajam buntut kasus keracunan massal (Dok. BGN)

Ia mengusulkan agar dapur MBG dipusatkan di sekolah-sekolah melalui rehabilitasi kantin.

“Kalau di sekolah, distribusi lebih sederhana, cukup untuk satu sekolah, kualitas pun lebih terjaga,” ujarnya di Senayan.

Tantangan teknis di lapangan

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut persoalan utama terletak pada teknis memasak dan distribusi.

Baca Juga: Timnas Indonesia vs Arab Saudi di Round 4: Garuda tantang Green Falcons, cedera Al Dawsari jadi sorotan besar

“Masak terlalu awal membuat makanan basi sebelum sampai ke penerima. Harus dijaga agar jarak antara memasak dan distribusi tidak lebih dari empat jam,” jelasnya.

Selain itu, pergantian pemasok bahan baku secara mendadak juga disebut memperburuk kualitas makanan.

BGN kini memperketat regulasi agar setiap perubahan pemasok dilakukan bertahap.

Dengan sederet langkah evaluasi hingga wacana baru pemanfaatan kantin sekolah, publik menanti reformasi menyeluruh dalam tata kelola MBG agar program unggulan pemerintah ini tidak kembali menimbulkan korban.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X