Ia mengusulkan agar dapur MBG dipusatkan di sekolah-sekolah melalui rehabilitasi kantin.
“Kalau di sekolah, distribusi lebih sederhana, cukup untuk satu sekolah, kualitas pun lebih terjaga,” ujarnya di Senayan.
Tantangan teknis di lapangan
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyebut persoalan utama terletak pada teknis memasak dan distribusi.
“Masak terlalu awal membuat makanan basi sebelum sampai ke penerima. Harus dijaga agar jarak antara memasak dan distribusi tidak lebih dari empat jam,” jelasnya.
Selain itu, pergantian pemasok bahan baku secara mendadak juga disebut memperburuk kualitas makanan.
BGN kini memperketat regulasi agar setiap perubahan pemasok dilakukan bertahap.
Dengan sederet langkah evaluasi hingga wacana baru pemanfaatan kantin sekolah, publik menanti reformasi menyeluruh dalam tata kelola MBG agar program unggulan pemerintah ini tidak kembali menimbulkan korban.***
Artikel Terkait
Terkini kasus keracunan MBG: Pemerintah tutup sementara dapur bermasalah, ahli gizi disiapkan Kemenkes
Guncangan MBG di KBB: Ribuan siswa keracunan, bakteri pembusuk terungkap, hingga Gubernur Dedi usul dapur sekolah
Ketua Banggar DPR usul kantin sekolah jadi dapur MBG, soroti beban berat SPPG dan kasus keracunan
Strategi baru awasi MBG: SLHS jadi syarat wajib, Puskesmas dan UKS ikut pantau
Wartawan diduga dianiaya saat liput kasus keracunan MBG di Pasar Rebo, polisi diminta usut tuntas
BGN dan BPOM beberkan biang kerok kasus keracunan MBG, SPPG disebut langgar SOP hingga minim sertifikat higienis
Insentif Rp100 ribu untuk guru penanggung jawab, pemerintah tambah skema distribusi MBG di lapangan