Ia menegaskan, pemerintah daerah perlu menyiapkan fasilitas medis dan logistik untuk mengantisipasi lonjakan korban bila kasus serupa kembali terjadi.
“Koordinasi sudah baik, tetapi setiap wilayah harus siap. Mulai obat-obatan, tempat mandi, hingga ruang perawatan harus ditambah,” ujar Dadan di posko penanganan keracunan MBG, Cipongkor, Bandung Barat.
Evaluasi total, program tetap jalan
Meski kritik publik makin tajam, Dadan menegaskan program MBG tidak akan dihentikan.
Pemerintah memilih fokus pada evaluasi total, termasuk memperketat pengawasan dapur MBG, memperbaiki standar kesehatan, dan menelusuri penyebab utama keracunan massal.
“Komitmen kami jelas: mengusut penyebab, memperbaiki sistem manajemen, dan memastikan kasus serupa tidak terulang,” kata Dadan.
Kini, di tengah air mata Nanik dan janji evaluasi BGN, publik masih menunggu bukti nyata, apakah program yang digadang-gadang sebagai solusi gizi anak bangsa ini bisa kembali dipercaya, atau justru terus menjadi bayang-bayang krisis di ruang kelas sekolah Indonesia.***
Artikel Terkait
Kritik pedas dr. Tan Shot Yen soal MBG: Dari SPPG yang bermasalah hingga tuntutan transparansi anggaran
Badai kasus keracunan terpa program MBG di sekolah, kritik menu makanan kian tajam
11 Siswa SD di Subang diduga keracunan usai santap MBG, Bupati janji perketat pengawasan SPPG
Kasus keracunan massal MBG kian meluas: Pakar IDAI ingatkan bahaya dapur massal, sarankan hidupkan kantin sekolah
Menu kearifan lokal MBG jadi sorotan: Kasus ikan hiu di Kalbar hingga kontroversi usulan serangga dari BGN
Insiden keracunan massal di Sumedang, Polri hingga DPR soroti lemahnya pengawasan standar pangan program MBG
KLB keracunan MBG, BGN ambil langkah tegas: Tutup dapur bermasalah dan bentuk tim investigasi