Ucapan Fadli Zon soal tragedi Mei 1998 tuai kecaman, DPR akan panggil Menbud untuk klarifikasi

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Selasa, 17 Juni 2025 | 15:15 WIB
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (Instagram.com/@fadlizon)
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (Instagram.com/@fadlizon)

GENMILENIAL.ID – Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait tragedi kemanusiaan dalam kerusuhan Mei 1998 menuai kecaman publik dan mendorong DPR RI untuk memanggilnya guna memberikan klarifikasi resmi.

Ucapan Fadli Zon yang menyebut tidak ada bukti pemerkosaan massal dalam peristiwa Mei 1998 dinilai menyesatkan dan meragukan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), yang pernah dibentuk untuk mengusut kasus pelanggaran HAM tersebut.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan bahwa pernyataan tersebut harus diklarifikasi secara resmi di hadapan parlemen.

Baca Juga: Polda Jatim bongkar grup WA gay penyebar konten pornografi, 4 pria diringkus

"Pernyataan Menteri Kebudayaan yang menyebut bahwa pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998 hanya sebatas rumor, perlu secara resmi diklarifikasi," kata Hadrian kepada awak media di Jakarta, Selasa, 17 Juni 2025.

Hadrian menyampaikan bahwa Komisi X DPR RI berencana memanggil Fadli Zon dalam rapat kerja (raker) yang akan digelar pada Masa Sidang IV, mulai 24 Juni 2025 mendatang.

"Kami akan mengagendakan Raker/RDP dengan seluruh mitra Komisi X, termasuk Kementerian Kebudayaan," ujarnya.

Menurut Hadrian, pernyataan kontroversial Fadli Zon sangat sensitif karena menyangkut sejarah kekerasan seksual dalam konteks pelanggaran HAM berat di Indonesia.

Baca Juga: Skandal SPMB Bandung 2025: Dugaan praktik titipan anak pejabat untuk masuk sekolah favorit disorot

Pernyataan itu juga dianggap berpotensi melukai para penyintas dan mencederai semangat rekonsiliasi nasional.

"Meragukan temuan TGPF bisa melukai dan mencederai semangat penegakan HAM serta rekonsiliasi nasional," tegasnya.

Sebelumnya, dalam sebuah wawancara, Fadli Zon menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti kuat mengenai pemerkosaan massal pada peristiwa Mei 1998, dan menyebut isu tersebut sebagai rumor.

Ucapan ini memicu reaksi keras dari masyarakat sipil, aktivis HAM, serta para akademisi yang selama ini mendorong pengungkapan kebenaran sejarah.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X