Kebebasan pers di Indonesia semakin memburuk, AJI desak perlindungan yang lebih kuat

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 6 Mei 2025 | 12:54 WIB
Aksi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day/WPFD), Sabtu 3 Mei 2025 (Aji.or.id)
Aksi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day/WPFD), Sabtu 3 Mei 2025 (Aji.or.id)

AJI mengimbau perusahaan media dan jurnalis untuk meningkatkan profesionalisme dan kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan baru.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah kemunculan teknologi Kecerdasan Artifisial (AI) dalam dunia media.

Tema Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025, "Reporting in the Brave New World: The Impact of Artificial Intelligence on Press Freedom and the Media", mengangkat pentingnya profesionalisme jurnalis di tengah perkembangan teknologi.

AJI menilai kehadiran AI tidak bisa dihindari dalam industri media, namun tetap harus diimbangi dengan verifikasi dan konfirmasi oleh manusia untuk memastikan kualitas informasi.

Baca Juga: Janjikan biaya haji murah, Prabowo klaim akan berjuang lewat diplomasi RI-Saudi

“Perusahaan media sebaiknya memprioritaskan peran jurnalis meski ada teknologi AI. Teknologi tetap tidak bisa menggantikan peran jurnalis yang memahami konteks dan dapat melakukan verifikasi dan konfirmasi yang belum bisa digantikan mesin atau algoritma," kata Adi Marsiela dari Bidang Internet AJI Indonesia

Lebih lanjut, AJI mengingatkan bahwa teknologi AI, meski dapat memangkas berbagai proses produksi berita, tetap memiliki risiko.

Kecanggihan teknologi ini dapat mempengaruhi kebebasan berpendapat dan berekspresi, terutama jika digunakan tanpa pemahaman konteks yang tepat.

“Kami mendorong seluruh perusahaan media mematuhi pedoman resmi dari Dewan Pers terkait penggunaan kecerdasan artifisial," ujarnya.

Baca Juga: Mahfud MD ungkap tidak peduli dugaan ijazah palsu Jokowi, tak akan pengaruhi kebijakan ayah Gibran saat jabat presiden

AJI juga mengingatkan perusahaan media untuk membuat aturan tertulis terkait penggunaan AI serta melaksanakan pelatihan berkelanjutan untuk jurnalis dalam hal ini.

Tanpa langkah tersebut, AI yang tidak dipahami secara kontekstual berpotensi mengaburkan fakta dan menyesatkan pembaca.

Perjuangan untuk kebebasan pers yang lebih baik menjadi tantangan besar di tengah kemajuan teknologi dan situasi sosial politik yang terus berkembang.

AJI menekankan bahwa hanya dengan pers yang bebas, independen, dan berkelanjutan, demokrasi bisa bertahan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Sumber: aji.or.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X