Boros bisa memicu terjadinya masalah kesehatan mental, waspadai dampaknya pada diri sendiri

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 8 Januari 2025 | 18:34 WIB
Ilustrasi boros dalam berbelanja yang berpengaruh pada kesehatan mental, ternyata berbahaya! (Freepik/tirachardz)
Ilustrasi boros dalam berbelanja yang berpengaruh pada kesehatan mental, ternyata berbahaya! (Freepik/tirachardz)

GENMILENIAL.ID - Boros atau pengeluaran yang berlebihan sering kali dianggap hanya sebagai masalah keuangan, namun dalam kenyataannya, perilaku ini dapat memengaruhi kesehatan mental secara signifikan. 

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan belanja yang tidak terkontrol bisa memperburuk gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, dan stres. 

Dampak psikologis dari pengeluaran berlebihan, baik yang disebabkan oleh kebiasaan hidup konsumtif atau tekanan sosial, menjadi masalah yang semakin relevan di tengah dunia yang semakin materialistis.

Baca Juga: Virus HMPV tidak bisa diobati, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?

Dampak boros

Salah satu dampak terbesar dari boros adalah terjadinya utang yang menumpuk. 

Ketika seseorang terus-menerus berbelanja lebih dari kemampuan mereka, utang yang dihasilkan bisa menyebabkan perasaan cemas yang berkelanjutan. 

Menurut studi yang diterbitkan oleh Psychology Today, individu yang memiliki utang cenderung mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki utang. 

Kecemasan ini sering kali dipicu oleh ketakutan akan masa depan finansial yang tidak pasti, dan khawatir tentang kemampuan untuk melunasi utang-utang tersebut.

Baca Juga: HMPV sudah masuk ke Indonesia, Menkes sebut anak-anak jadi korban dan begini gejalanya

Ketegangan mental yang timbul dari utang ini bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan yang serius jika tidak diatasi dengan baik.

Boros juga dapat menyebabkan kerusakan pada rasa harga diri seseorang.

Dalam banyak budaya, terutama di negara-negara dengan ekonomi kapitalis, konsumerisme sering kali menjadi tolak ukur status sosial.

Banyak orang merasa tertekan untuk menghabiskan uang demi membeli barang-barang mewah atau mengikuti tren, meskipun mereka tidak mampu secara finansial.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Sumber: The Guardian, psychologytoday

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X