Apa itu JOMO? kebalikan FOMO bagi kaum yang lepaskan ketergantungan di medsos dengan menikmati momen nyata

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Sabtu, 23 November 2024 | 00:50 WIB
Ilustrasi Joy of Missing Out (JOMO) yang menjadi cara bagi seseorang untuk menikmati dunia nyata tanpa takut ketinggalan momen di media sosial (Unsplash.com/Preslie Hirsch)
Ilustrasi Joy of Missing Out (JOMO) yang menjadi cara bagi seseorang untuk menikmati dunia nyata tanpa takut ketinggalan momen di media sosial (Unsplash.com/Preslie Hirsch)

GENMILENIAL.ID - Sebagian orang ingin menikmati setiap momen di dunia nyata tanpa harus memikirkan tentang media sosial.

Contoh yang nyata terjadi ketika seseorang menghadiri konser musik dari musisi idolanya yang tampil di atas panggung.

Ribuan kamera bak bintang-bintang bersinar terang dari para penonton kepada sang superstar, kemudian momen itu dibagikan di media sosial pribadi mereka.

Namun, tanpa sadar mereka menikmati momen itu dengan layar ponsel mereka. Padahal, sang idola jelas-jelas ada di hadapan mereka.

Baca Juga: Gegara plastik belanja online yang bejibun di rumahnya, anak muda ini justru punya ide bisnis brilian dari bungkus paket berbahan alami

Itu adalah contoh kecil yang acapkali disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO), sebuah fenomena yang kini tengah menyelimuti para pengguna di media sosial.

Mereka seolah takut ketinggalan momen-momen yang ada di kehidupan nyata agar bisa dibagikan di dunia maya.

Berkaca dari hal itu, terdapat sebuah kebalikan dari FOMO yakni JOMO (Joy of Missing Out). JOMO juga merupakan istilah yang kerap dipakai bagi sebagai orang yang justru menikmati saat mereka ketinggalan momen seru di media sosial.

Apa itu JOMO?

Jika kembali mengambil contoh saat momen konser, maka orang itu lebih memilih menikmati momen sang idola bernyanyi ketimbang harus repot-repot mengambil kameranya.

Baca Juga: Komdigi blokir ratusan rekening bank yang dipakai aktivitas judi online, waduh BCA jadi yang terbanyak!

Dikutip dari Cleveland, JOMO memungkinkan seseorang untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mendapatkan pengakuan orang lain.

Seorang Psikolog, Albers mengungkap sisi lain dari JOMO yang dianggap memberikan manfaat dari sisi psikologi.

"JOMO lebih berfokus pada kualitas ketimbang kuantitas," ujar sang psikolog.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Sumber: Cleveland Clinic

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X