Menurut Aghitsna, Al-Ghazali menawarkan pendekatan konservatif-spiritual, menekankan pendidikan sebagai penyucian hati (tazkiyatun nafs) dan pembentukan etika.
Baca Juga: Mahfud MD soroti proyek Whoosh Rp116 triliun: KPK bisa panggil Jokowi untuk dimintai keterangan
“Guru ideal, kata Al-Ghazali, adalah yang membimbing dengan kasih sayang dan menjadi teladan akhlak. Pendidikan tidak boleh netral dari nilai keagamaan,” ujarnya.
Sementara Ikhwan al-Shafa, lanjutnya, mengedepankan rasionalisme religius. Mereka menempatkan guru bukan hanya sebagai penghafal doktrin, melainkan fasilitator bagi murid agar mampu berpikir logis dan kritis.
Adapun Ibn Khaldun, yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi, menawarkan pragmatisme sosial.
“Beliau menolak metode hafalan yang memberatkan. Pendidikan harus bertahap, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter sosial,” kata Aghitsna.
Antara dogmatisme dan sekularisme
Lebih jauh, Aghitsna juga menyoroti dua ekstrem yang kerap terjadi di lembaga pendidikan Islam: terlalu dogmatis atau terlalu sekuler.
“Yang dogmatis suka membuat aturan dan menghukum pelanggar, tapi jarang memberi apresiasi bagi murid yang taat. Sebaliknya, yang sekuler justru kehilangan prinsip religius dan menjauh dari ruh Islam,” ujarnya.
Menurutnya, dua kutub itu sama-sama keliru. Satu membelenggu kebebasan berpikir, yang lain kehilangan arah spiritual.
Seruan untuk berbenah
Aghitsna menekankan, tantangan pendidikan Islam modern tidak semata-mata berada di level sistem, melainkan juga di level individu.
Baca Juga: Tersangka penggelapan dana konser TWICE, bos Mecimapro ditahan saat refund Day6 masih tertunda
“Lembaga harus terbuka dan meninjau kembali pendekatannya. Tapi murid juga jangan hanya bisa mengkritik tanpa etika. Kritik itu perlu, tapi harus beradab,” pesannya.