GENMILENIAL.ID – Arus deras tren digital yang kerap merusak akhlak generasi muda membuat pesantren sering dipandang sebelah mata.
Namun, bagi Aghitsna Waliyaz Zulfa, mahasiswa tingkat tiga Universitas al-Ahgaff, Tarim, sistem pendidikan pesantren justru menjadi jawaban atas gempuran zaman sekaligus tuduhan miring yang kerap dialamatkan kepadanya.
Dalam wawancara khusus dengan GenMilenial.id, Aghitsna menekankan keistimewaan utama pesantren terletak pada dua konsep klasik, suhbah ma’al ustadz (hidup bersama guru) dan mujalasatul ulama’ (duduk dalam majelis ulama).
Baca Juga: Kapolsek Subang dampingi petani tanam jagung di lahan 5 hektar Sukamelang
Meniru teladan guru
Menurutnya, suhbah ma’al ustadz memungkinkan santri tidak hanya belajar ilmu agama secara tekstual, melainkan juga meneladani akhlak sehari-hari para ustadz dan kiai.
“Konsep ini yang membuat pesantren mampu membentuk karakter. Seperti para sahabat meneladani Rasulullah SAW, atau para tabi’in meneladani sahabat,” jelas Aghitsna.
Dengan kedekatan itu, generasi muda akan lebih sulit terpengaruh tren-tren imoral di media sosial karena mereka memiliki panutan nyata.
Baca Juga: Lisa Mariana ingin tes DNA ulang di Singapura, surati Ridwan Kamil
Menutup ketergantungan pada AI
Sementara itu, mujalasatul ulama’ menjadi penawar dominasi kecerdasan buatan (AI) di tengah generasi digital.
Aghitsna menyoroti kebiasaan sebagian anak muda yang menggantungkan segala jawaban, termasuk soal tauhid dan akidah, pada mesin.
“Bahaya kalau sejak awal terbiasa dimanjakan AI. Pikiran bisa tumpul karena tidak terbiasa meneliti dan menganalisis,” katanya.
Melalui majelis ilmu, santri diajak berdialog dan berargumentasi dengan ulama. Diskusi kritis semacam ini justru mengasah tajamnya gagasan, sekaligus menjaga adab.