“Banyak kalangan Sunni kini melihat Iran sebagai kekuatan yang berani melawan Israel. Ini berbeda dengan negara-negara Arab yang telah melakukan normalisasi hubungan,” jelasnya.
Kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas, Jihad Islam, dan Hizbullah, kata Yanuardi, akan memperoleh legitimasi tambahan karena keterlibatan langsung Iran.
Baca Juga: DPRD Subang desak penegakan tegas Perbup pembatasan jam operasional truk berat
“Ini menghidupkan kembali poros perlawanan dan semangat perjuangan kemerdekaan Palestina,” imbuhnya.
Ancaman eskalasi dan tarik ulur keterlibatan global
Meski serangan balasan Iran masih terukur, ancaman eskalasi tetap terbuka. Yanuardi mengingatkan bahwa jika konflik meluas ke wilayah strategis atau menyasar kepentingan AS di kawasan, maka keterlibatan Amerika akan menjadi keniscayaan.
“Risikonya bisa mengarah ke konflik regional, bahkan skenario perang dunia ketiga,” ujarnya.
Namun, Yanuardi menyoroti tekanan domestik dan internasional yang kini dialami pemerintah AS. Generasi muda dan komunitas global, kata dia, semakin kritis terhadap kebijakan pro-Israel.
Baca Juga: Ngunduh mantu Al Ghazali digelar megah, Ahmad Dhani berseloroh soal rencana pernikahan El Rumi
Prediksi 2027 dan arah geopolitik baru
Menanggapi ramalan pendiri Hamas, Syekh Ahmad Yasin, yang menyebut Israel akan hancur pada 2027, Yanuardi menilainya sebagai bagian dari simbolisme politik dan spiritual.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan terjadinya kemunduran besar Israel.
“Jika eskalasi terus berlanjut, bisa jadi kita menyaksikan keruntuhan legitimasi dan tekanan internal di Israel,” katanya.
Momentum untuk tatanan yang lebih adil
Sebagai catatan penutup, Yanuardi menyampaikan bahwa konflik Iran-Israel tidak semata konflik antarnegara, melainkan juga tentang ketertundaan keadilan global.