GENMILENIAL.ID – Konflik terbuka antara Iran dan Israel yang meletus pada pertengahan Juni 2025 menandai babak baru dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Tidak lagi melalui perang perantara (proxy war), serangan langsung antara kedua negara dinilai sebagai langkah eskalatif yang bisa mengubah struktur keamanan regional.
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, menyebut bahwa fase baru konfrontasi ini sangat mungkin membentuk poros kekuatan baru, sekaligus membangkitkan solidaritas lintas mazhab di dunia Islam.
“Ini adalah bentuk konfrontasi langsung yang bisa mengubah arsitektur keamanan kawasan,” ujar Yanuardi dalam wawancara tertulis, Kamis, 20 Juni 2025.
Ia menambahkan bahwa respons militer Iran terhadap serangan Israel memperlihatkan kemajuan signifikan dalam teknologi dan strategi pertahanan negara tersebut.
Dinamika dan target strategis Israel
Yanuardi menyebut, serangan Israel yang menewaskan ilmuwan dan jenderal Iran pada 13 Juni 2025 merupakan bentuk upaya sistematis untuk melemahkan kekuatan militer dan teknologi Iran.
“Israel hendak memutus rantai komando Iran. Tapi kelihatannya Iran juga cukup cepat dalam regenerasi, termasuk ilmuwan-ilmuwannya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, tindakan Israel itu justru memicu respons publik global yang cenderung berpihak kepada Iran.
Baca Juga: Dishub Subang tegaskan: Taati aturan ODOL demi keselamatan dan keadilan di jalan raya
“Ini bisa dikatakan sebagai bentuk ‘sanksi sosial global’ terhadap Israel, yang selama ini dianggap telah melampaui batas kemanusiaan dalam agresi terhadap Gaza dan Palestina,” kata Yanuardi.
Solidaritas baru di dunia Islam
Menariknya, Yanuardi menilai bahwa perang ini mendorong terbentuknya solidaritas baru di antara negara-negara dan kelompok Islam, baik Sunni maupun Syiah.