GENMILENIAL.ID - Namimah adalah salah satu perbuatan yang dilarang dalam Islam karena termasuk dalam kategori ghibah (bergosip) dan menyebarkan fitnah (berkata bohong).
Istilah 'namimah' berasal dari bahasa Arab yang berarti 'mengadu domba' atau 'menyebarkan berita palsu dengan niat merusak reputasi seseorang'.
Praktik namimah dianggap sebagai dosa besar yang dapat merusak hubungan sosial dan menciptakan permusuhan di antara sesama muslim.
Hukum namimah dalam Islam didasarkan pada beberapa dalil (dalil dalam Islam adalah petunjuk atau bukti yang diambil dari Al-Quran, Hadis, atau ijma' para ulama) yang menyatakan tentang larangan berbicara buruk tentang orang lain atau menyebarkan berita bohong tanpa bukti yang jelas.
Baca Juga: 10 Tips mengajar di kelas agar lebih hidup dan menarik
Beberapa dalil yang relevan tentang namimah antara lain sebagai berikut:
1. Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat (49:12): "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
2. Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kalian apa itu ghibah (bergosip)?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Lalu beliau bersabda, "Menceritakan tentang saudaramu sesuatu yang dia tidak suka." (HR. Muslim)
3. Rasulullah SAW bersabda: "Apakah kalian ingin aku beritahukan tentang dosa yang lebih besar daripada berpuasa dan salat?" Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Mengadu domba (namimah) dan berkata buruk tentang saudaramu." (HR. Muslim)
Berdasarkan dalil-dalil di atas, dapat disimpulkan bahwa namimah adalah perbuatan yang sangat tercela dalam Islam.
Sebagai umat muslim, kita harus berusaha menghindari perilaku ini dan selalu berhati-hati dengan apa yang kita sampaikan tentang orang lain.
Ketika berhadapan dengan informasi tentang seseorang, kita harus melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum menyebarkannya, terutama jika informasi tersebut berpotensi merugikan atau merusak reputasi orang tersebut.
Jika kita mendengar berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya, lebih baik untuk tidak menyebarkannya sama sekali daripada ikut berperan dalam menyebarkan berita palsu.
Artikel Terkait
Moderasi beragama, membangun keharmonisan dalam keanekaragaman
3 Keutamaan bulan dzulhijah, inilah ibadah yang paling utama
Menyambut Idul Adha, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, seperti ini yang biasa dilakukan
Niat puasa tarwiyah dan arafah serta keutamaannya
Puasa Idul Adha, menghormati dan menghayati perayaan kurban
Peringatan tahun baru Islam dan tradisi pawai obor di Indonesia
Ghibah, menggali dalam diam, menguak jejak cela di balik sejuta senyum