Menariknya, terdapat perbedaan signifikan berdasarkan gender.
Sebanyak 81 persen pasien kardiovaskular adalah laki-laki, sedangkan 72 persen pasien kanker adalah perempuan.
“Ini menunjukkan kebutuhan skrining yang berbeda dan lebih spesifik bagi setiap kelompok,” jelasnya.
Telemedicine terbukti lebih efisien
Laporan tersebut juga menyoroti efektivitas layanan telemedicine Halodoc melalui Digital Cashless Outpatient (DCO).
Telemedicine mampu menangani 24 persen kasus hanya dengan 8 persen dari total biaya kesehatan, dengan tingkat penyelesaian lebih dari 95 persen tanpa kunjungan lanjutan.
Baca Juga: Dipercaya masyarakat, Ash Shiddiq Tours berangkatkan 367 jemaah umrah satu pesawat
Untuk pasien kronis, penggunaan layanan digital bahkan mampu menghemat biaya hingga 66,4 persen dalam 90 hari.
“Telemedicine bukan sekadar alternatif murah, tapi solusi yang mempercepat penanganan dan pemulihan karyawan,” kata Fibriyani.
Hadirkan ekosistem terintegrasi berbasis AI
Sebagai solusi, Halodoc menghadirkan ekosistem terintegrasi, mulai dari konsultasi digital, pengelolaan klaim, hingga pendampingan langsung di rumah sakit.
Salah satu inovasi utamanya adalah HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), teknologi berbasis AI yang membantu proses verifikasi, pemantauan biaya, hingga penyelesaian klaim secara otomatis.
Teknologi ini diklaim mampu menekan biaya pengelolaan klaim hingga 18 persen.
Artikel Terkait
Pastikan kesehatan karyawan, PT Dahana gelar annual MCU
Sekjen Kemensos ungkap masalah kesehatan anak sekolah rakyat, dari gigi rusak hingga anemia
Debu pekat selimuti Aceh Tamiang usai helikopter mendarat, lumpur kering picu ancaman kesehatan warga
Peringati Hari Kanker Sedunia, Halodoc perluas akses deteksi dan pencegahan kanker sejak dini
Dirut BPJS Kesehatan tegaskan bukan badan usaha pencari profit, ungkap aliran dana warga miskin dan mampu
Jabar 2027 dikejar tuntas: Kang Dedi Mulyadi targetkan tak ada anak putus sekolah dan warga tanpa akses kesehatan
Viral balita diajak ke konser malam di waterpark, dokter anak ingatkan risiko kesehatan