Raffi Ahmad serap aspirasi pelaku kreatif Banyumas–Cilacap, dorong ekosistem seni berdaya saing nasional

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:03 WIB
Wakil Ketua Umum ICCN sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pekerja Seni dan Kepemudaan, Raffi Ahmad menyerap langsung aspirasi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Cilacap pada Sabtu, 17 Januari 2026 (Dok. Istimewa)
Wakil Ketua Umum ICCN sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pekerja Seni dan Kepemudaan, Raffi Ahmad menyerap langsung aspirasi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Cilacap pada Sabtu, 17 Januari 2026 (Dok. Istimewa)

“Negara harus hadir bukan hanya lewat acara, tapi memastikan ada ruang produksi, pengembangan talenta, akses pasar, dan apresiasi berkelanjutan bagi pelaku seni,” tegas Raffi.

Baca Juga: WNI di Belanda curhat soal panduan bertahan hidup 72 jam, gegara listrik padam warga diminta siaga

Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem, bukan sekadar event sesaat, agar pelaku kreatif dapat tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Sorotan ICCN: Tantangan bukan kreativitas, tapi akses dan kebijakan

Senada dengan itu, Dimas Herdy Utomo menilai tantangan utama ekosistem kreatif daerah bukan terletak pada ide atau kreativitas, melainkan pada kesinambungan kebijakan.

“Masalahnya bukan kekurangan talenta, tapi sinkronisasi kebijakan, akses pembiayaan, dan keberlanjutan program agar tidak bergantung pada figur atau momentum,” ujarnya.

Sementara itu, Romi Angger Hidayat menyoroti potensi kolaborasi Banyumas–Cilacap sebagai model penguatan ekosistem regional berbasis jejaring ICCN.

Baca Juga: Terobos banjir demi mengajar, aksi guru matematika SMK Serang ini tuai salut warganet

“Kolaborasi lintas wilayah sangat penting, terutama dalam pertukaran praktik baik dan penguatan rantai nilai kreatif dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Aspirasi pelaku kreatif: Ruang berkarya hingga akses pasar

Forum ini juga menjadi wadah penyampaian berbagai tantangan yang dihadapi pelaku kreatif, mulai dari keterbatasan ruang berkarya, regenerasi seniman, minimnya akses pasar, hingga kebutuhan pendampingan manajerial dan kuratorial.

Seluruh masukan tersebut dicatat sebagai bahan tindak lanjut oleh UKP, ICCN, dan Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah.

Melalui kegiatan ini, Banyumas dinilai menjadi contoh bagaimana dialog berbasis komunitas mampu menjembatani kebijakan nasional dengan realitas lokal, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X