Mengintip fenomena passion economy: Dari hobi jadi sumber cuan

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 24 Agustus 2025 | 12:01 WIB
Ilustrasi seorang konten kreator yang menyalurkan hobinya hingga menjadi sumber keuntungan (Freepik.com)
Ilustrasi seorang konten kreator yang menyalurkan hobinya hingga menjadi sumber keuntungan (Freepik.com)

GENMILENIAL.ID – Di tengah derasnya arus digital, semakin banyak anak muda Indonesia yang berhasil mengubah hobi menjadi sumber penghasilan.

Fenomena ini dikenal dengan istilah passion economy, sebuah tren global di mana minat dan kesukaan pribadi bisa diolah menjadi karya bernilai sekaligus membuka peluang bisnis baru.

Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin masih asing. Namun contohnya sudah banyak terlihat di sekitar kita, terutama dari kalangan kreator konten.

Baca Juga: Kisah inspiratif Susan Wojcicki: Dari garasi kecil hingga CEO YouTube

Sosok Nessie Judge misalnya, mampu menjadikan ketertarikannya pada kisah misteri dan sejarah sebagai konten YouTube yang digemari jutaan penonton.

Dengan gaya bercerita khas, Nessie berhasil menunjukkan bahwa konsistensi menggarap hobi dapat membentuk identitas sekaligus mendatangkan keuntungan.

Fenomena serupa juga dialami Windah Basudara, streamer gaming yang lekat dengan komunitas 'bocil kematian'.

Popularitas Windah bukan hanya karena keterampilan bermain gim, melainkan interaksi hangat dan humor yang membangun kedekatan dengan audiens.

Baca Juga: Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa

Cara ini membuat dirinya tak sekadar tampil sebagai pemain gim, tetapi juga figur yang dirindukan penontonnya.

Contoh lain datang dari Fadil Jaidi dan ayahnya, Pak Muh. Mereka menampilkan konten keluarga yang spontan dan apa adanya, namun justru hal itulah yang menarik perhatian publik.

Relasi otentik dalam kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menciptakan ikatan emosional dengan penonton.

Menurut laporan Mighty Networks, kunci dari passion economy bukanlah modal finansial besar, melainkan keberanian mengekspresikan diri, konsistensi, serta kemampuan membangun koneksi dengan audiens.

Baca Juga: ESAI: Korupsi dan simbol pragmatisme kolektif

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X