Membaca masa depan AI Indonesia: Kolaborasi pemerintah, komunitas, dan dunia usaha di CITCOM CONNEXT 2025

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 24 April 2025 | 20:51 WIB
Acara CITCOM CONNEXT 2025 di Bandung, pada 22 April 2025 (Dok. CITCOM CONNEXT 2025)
Acara CITCOM CONNEXT 2025 di Bandung, pada 22 April 2025 (Dok. CITCOM CONNEXT 2025)

GENMILENIAL.ID — Di tengah gempuran teknologi global, Indonesia bersiap mengambil posisi penting dalam pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Gelaran CITCOM CONNEXT 2025 di Bandung, Senin 22 April lalu, menjadi panggung penting yang mempertemukan pemerintah, komunitas teknologi, dan pelaku usaha untuk bersama-sama merumuskan arah adopsi AI yang inklusif, aman, dan relevan dengan kebutuhan nasional.

Konferensi yang mengangkat tema 'Decode AI, Unchain Future' ini tidak sekadar menjadi ajang pamer teknologi.

Lebih dari itu, ia menjadi forum pertukaran gagasan lintas sektor yang menggarisbawahi urgensi pengelolaan AI sebagai bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan.

Baca Juga: Pramono Anung sebut 3 hari macet horor Tanjung Priok bentuk pengelola Pelabuhan yang tak profesional, siap beri peringatan keras untuk Pelindo

Dalam satu hari, 26 perusahaan teknologi, sejumlah pemimpin komunitas digital, akademisi, hingga pelaku industri kreatif, duduk satu meja dengan pemerintah untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana Indonesia harus menyambut dan mengelola AI?

Roadmap pemerintah dan optimisme digital

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Komdigi) menyampaikan visi besar menuju 2030: digitalisasi menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Dirjen Ekosistem Digital Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan bahwa AI akan menjadi penggerak utama produktivitas nasional.

“Kita sedang mempersiapkan AI roadmap beserta aturan ethics-nya,” ujar Edwin, menekankan pentingnya literasi digital, penguatan SDM, dan infrastruktur yang mendukung.

Baca Juga: Selain Pelindo, Pramono Anung ikut minta maaf terkait macet panjang Tanjung Priok akibat bongkar muat melebihi kapasitas di Pelabuhan

Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, dalam sambutan video, juga memperkuat pesan bahwa inovasi tidak bisa dimonopoli oleh negara atau korporasi saja.

“Kebijakan hanya akan efektif bila dibangun bersama mereka yang hidup, bekerja, dan berinovasi di ekosistem digital itu sendiri," ujarnya

Meutya menambahkan lima prioritas strategis nasional yang akan difokuskan dalam integrasi AI: layanan kesehatan, birokrasi, pendidikan digital, pengembangan kota pintar, dan ketahanan pangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X