“Ini merupakan bentuk kepedulian para niniak mamak kepada anak kemenakan yang sedang menghadapi musibah,” kata Fadly dikutip dalam keterangannya pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurut Fadly, kepedulian kepada sesama tidak cukup hanya disampaikan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Terlebih, bencana dapat terjadi di berbagai tempat dan waktu.
Fadly kemudian mengingat kembali pengalaman masyarakat Sumbar ketika wilayah Ranah Minang dilanda gempa pada 2009.
Saat itu, banyak pihak dari berbagai daerah datang memberikan bantuan untuk membantu masyarakat yang terdampak.
“Ketika Kota Padang mengalami gempa bumi pada 2009 dan bencana hidrometeorologi pada 2025 lalu, banyak pihak yang datang membantu,” sebut Fadly.
Ia mengatakan pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat Sumbar ikut membantu warga NTT.
“Dulu kami dibantu, karena itu, saat saudara-saudara kita di NTT menghadapi musibah, sudah sepatutnya kini giliran kita yang hadir dan memberikan bantuan,” imbuhnya.
Target kirim 5 ton rendang
Ketua LKAAM Sumbar, Fauzi Bahar, menyebut bantuan rendang tersebut dikumpulkan melalui gotong royong berbagai unsur masyarakat Minangkabau.
Sebanyak 700 kilogram rendang telah dikirimkan melalui penerbangan TNI Angkatan Udara sebagai tahap awal bantuan.
“Target kita sebanyak 5 ton rendang, dan akan kita kirim secara bertahap,” ungkap Fauzi dalam kesempatan yang sama.
Bantuan tersebut nantinya dikirim secara bertahap untuk memenuhi target yang telah ditetapkan.