“Silakan siapa yang mungkin membutuhkan atau bisa menyalurkan. Sayang aja ini ditaruh di pinggir jalan,” lanjutnya.
Baca Juga: Tabayyun materi mens rea, MUI ungkap dua poin penting hasil pertemuan dengan Pandji Pragiwaksono
Tuai pro dan kontra di media sosial
Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 130 ribu kali dan memantik diskusi panjang di kolom komentar.
Warganet terbelah antara mengapresiasi niat berbagi dan mengkritik cara penyortiran serta pendistribusian pakaian bekas tersebut.
Sebagian warganet menilai tindakan meninggalkan pakaian di jembatan tetap tidak tepat karena berpotensi menormalisasi kebiasaan membuang barang di ruang publik.
“Menurutku tetap nggak sopan, pakaian bekas termasuk limbah. Enak aja dibuang gitu aja dan lepas tanggung jawab,” tulis akun @pse******f.
Baca Juga: Mahfud MD soroti Polri yang 'dibedah habis' publik: Bahaya jika tak viral, tak ada tindakan
Komentar senada juga menyebut bahwa cara tersebut justru membuat orang ragu untuk mengambil pakaian karena khawatir dianggap memungut sampah.
“Ditawarkan baik-baik pasti banyak juga yang mau, kalau kayak gini orang takut buat ngambil,” tulis akun @lav*****8.
Namun, ada pula warganet yang mencoba melihat sisi positif dari peristiwa tersebut. Mereka menilai niat awalnya kemungkinan untuk berbagi, meski caranya kurang tepat.
“Itu mungkin orangnya saking bingungnya mau ngurangin isi almarinya,” tulis akun @ari*****_.
Baca Juga: Jalan amblas dan harapan Ramadan anak-anak Desa Uyem Beriring Gayo Lues usai banjir dan longsor
Meski demikian, mayoritas warganet menyarankan agar pakaian layak pakai sebaiknya disalurkan melalui tempat donasi resmi atau komunitas sosial, agar lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan polemik.
“Harusnya cari tempat yang bisa nampung baju bekas layak pakai, jadi nggak asal buang,” tulis akun @umi**********h.***