Yang paling membekas baginya adalah momen ketika tenaga mulai melemah, sementara arus terus menghantam tubuhnya.
Tangan gemetar, hati tetap bertahan
Sang ibu mengenang saat tangannya mulai gemetar karena kelelahan saat menggenggam anaknya. Di momen itulah, sang anak justru berkata hal yang membuat hatinya hancur.
“Anak saya bilang, ‘Mama kalau tidak sanggup, lepaskan saja’,” kenangnya.
Air mata pun tak terbendung. Dalam kondisi nyaris putus asa, sang ibu mengaku sempat pasrah demi keselamatan anak-anaknya.
“Saya bilang ke mereka, ‘Yang penting kalian hidup, biarkan saja Mama’,” ucapnya lirih.
Baca Juga: Ayah Syafiq Ali janji tetap menyayangi Himawan, sahabat pendakian anaknya di Gunung Slamet
Namun takdir berkata lain. Sang ibu dan anak-anaknya berhasil selamat dari terjangan banjir bandang yang merenggut banyak harta benda warga.
Keikhlasan warga bikin haru
Naufal mengaku sangat tersentuh melihat ketegaran warga Pidie Jaya yang kini perlahan bangkit meski hidup dalam keterbatasan.
“Yang bikin salut, mereka ikhlas. Tidak mengeluh, meski kehilangan banyak hal,” tuturnya.
Ia juga menyebut, para relawan saat itu menyalurkan bantuan pangan kepada sekitar 450 warga terdampak banjir.
Baca Juga: Hidup di bawah ancaman erupsi Semeru, warga Lumajang curhat ketakutan hingga usul gunung dipindahkan
“Tidak terbayang berada di posisi mereka. Bertahan di rumah saat banjir, tanpa makan dan minum, dengan tubuh terendam air,” kata Naufal.