Kondisi semakin sulit ketika akses jalan menuju lokasi aman tertutup longsor di berbagai titik. Tidak ada jalur evakuasi yang bisa dilalui, membuat warga terjebak di wilayah bencana.
“Di sini longsor, di sana longsor, jadi enggak ada jalan, jadi kami satu malam tidur di hutan,” lanjutnya.
Hutan menjadi satu-satunya tempat berlindung sementara dari terjangan hujan dan ancaman longsor susulan.
Dalam gelap dan dingin, mereka bertahan dengan rasa takut yang terus menghantui.
Anak menggigil di tengah dingin malam
Puncak kepedihan sang ibu adalah saat melihat anak-anaknya harus bertahan di tengah udara dingin tanpa perlindungan memadai.
Seluruh pakaian basah kuyup akibat hujan dan banjir, sementara rumah yang biasa menjadi tempat berteduh sudah rata dengan tanah.
“Karena tidak ada baju ganti, anakku tertidur tapi menggigil,” tuturnya dengan suara bergetar.
Tak ada selimut, tak ada pakaian kering, hanya pelukan dan doa yang bisa ia berikan pada anak-anaknya di tengah hutan.
Potret trauma warga pelosok pascabencana
Kisah dari Desa Mardame ini menjadi potret nyata betapa beratnya penderitaan warga di daerah pelosok ketika bencana alam melanda.
Baca Juga: Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om
Keterbatasan akses membuat bantuan sulit segera menjangkau para penyintas, meninggalkan trauma mendalam bagi mereka yang selamat.