Distribusi bantuan belum menyentuh semua
Kisah ini menyoroti persoalan klasik dalam penanganan bencana di daerah terpencil, bantuan memang ada, tetapi akses untuk menjangkaunya masih menjadi tantangan besar.
Baca Juga: Kekuatan media sosial satukan ibu dan anak yang terpisah usai banjir Aceh
Warga di garis terluar harus membayar mahal dengan tenaga, waktu, bahkan risiko keselamatan, hanya untuk memperoleh kebutuhan dasar.
“Kami butuh tenaga, untuk perjalanan kami butuh waktu sembilan jam, semangat,” katanya, mencoba menguatkan diri sendiri.
Pernyataan tersebut menjadi cermin ketimpangan distribusi logistik, di mana warga terdampak tidak hanya berjuang melawan dampak bencana, tetapi juga melawan keterbatasan akses dan minimnya sarana transportasi darurat.
Doa di tengah medan berbahaya
Di akhir video, ibu tersebut menyampaikan permohonan tulus kepada siapa pun yang menonton rekamannya.
Ia sadar bahwa perjalanan panjang di medan rawan bisa sewaktu-waktu berubah menjadi ancaman.
“Doakan semoga perjalanan kami aman-aman, tidak ada bahaya,” pungkasnya.
Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa di balik angka bantuan dan laporan penyaluran logistik, masih ada warga yang harus berjalan berjam-jam demi sebungkus sembako.
Sebuah potret nyata bahwa penanganan bencana tidak hanya soal jumlah bantuan, tetapi juga soal keadilan akses dan keselamatan penerimanya.***