Baca Juga: Viral penumpang KA Sancaka terluka akibat lemparan batu di Klaten, KAI ambil langkah tegas
Aku meneguknya. Rasanya sungguh menggetarkan jiwa, seperti memahami rahasia alam semesta dalam satu momen.
Namun anehnya, ada sedikit rasa manis di ujung lidahku, seperti janji surga yang menanti.
Sambil menikmati kopi pencerahan ini, aku melihat Sutardji Calzoum Bachri mencoba membimbing seorang anak kecil untuk menuliskan mimpinya di atas lembaran-lembaran yang bercahaya.
Ketua Komite Sastra DKJ sedang membaca kitab-kitab suci yang sampulnya memancarkan cahaya, mencari penafsiran yang benar.
Kunni Masrohanti sedang memeluk erat seorang perempuan tua yang menangis, memberikan kekuatan dari untaian puisinya.
Baca Juga: Eks pelatih Timnas Putri Indonesia gabung Klub Cristiano Ronaldo, latih Tim Wanita Al Nassr
Dan Irzi sedang memimpin sekelompok orang untuk bersenandung, mengiringi dzikir mereka dengan melodi-melodi ilahi.
Aku tersenyum, bukan lagi karena kelucuan, melainkan karena haru.
Masjid Amir Hamzah di TIM memang tempat yang ajaib, di mana batas antara duniawi dan ukhrawi menjadi sangat tipis, dan di mana para penyair dan seniman yang 'diasingkan' justru menemukan takdir mereka sebagai pembawa risalah dan petunjuk jalan bagi jiwa-jiwa yang tersesat dalam pencarian makna.
Mungkin, di tengah semua hiruk pikuk kehidupan, ada sepotong kebenaran yang senantiasa menanti untuk diungkapkan, dalam sebuah ayat yang belum terucap, sebuah melodi yang membimbing hati, atau bahkan dalam secangkir kopi Kifayah yang menawarkan pencerahan.
TAMAT
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja