Ia tak berbicara, hanya mengangkat tangannya, dan dari setiap jarinya, keluar benang-benang cahaya yang menjangkau setiap jiwa di Karbala.
Benang-benang itu melilit setiap syuhada, setiap anak yatim, bahkan setiap kaktus air mata. Aku merasakan benang itu melilit hatiku, menghangatkan dan menenangkannya.
Ini bukan benang pengekang, melainkan benang penghubung, simpul persatuan yang melampaui waktu dan kematian.
"Inilah Karbala," bisik suara tanpa tubuh di telingaku, mungkin itu suara sejarah itu sendiri.
"Bukan sekadar tempat pertumpahan darah, tapi panggung abadi bagi jiwa-jiwa yang menolak kebatilan. Lihatlah, di sini, Asyura adalah perayaan kebangkitan nurani, bukan hanya pengenangan duka."
Baca Juga: Aniaya kurir COD hingga terluka, oknum ASN di Pamekasan terancam 9 tahun penjara
Anak-anak yatim kini duduk bersila, melantunkan doa-doa dalam berbagai bahasa, suara mereka harmonis seperti paduan suara surgawi.
Para syuhada mengangguk-angguk, seolah setiap doa itu adalah melodi yang mereka kenal.
Aku memejamkan mata, merasakan angin Muharram berhembus lembut. Ketika kubuka kembali, Padang Karbala masih di sana, namun kini terasa berbeda.
Kaktus-kaktus air mata tampak lebih hijau, dan di kejauhan, aku bisa melihat secercah harapan, seperti fajar yang akan menyingsing.
Karbala Tak Pernah Mati. Ia hidup dalam setiap jiwa yang menolak tunduk pada kebatilan, dalam setiap tawa anak yatim yang menemukan harapan di tengah duka, dan dalam setiap bisikan angin yang membawa pesan kebenaran dari masa lalu.
Baca Juga: Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya tambah daftar panjang kecelakaan kapal di Selat Bali
Padang Karbala, sekali lagi, menyambutku. Tapi kali ini, ia bukan lagi hamparan bisu yang memar, melainkan kanvas hidup tempat rintik-rinai air mata berpadu dengan gelora takbir perlawanan yang tak pernah padam.
Angin Muharram berhembus lebih kencang, membawa serta melodi pilu dan gema keberanian.