Baca Juga: ESAI: Sebuah upaya mengembalikan hati ke pusat peradaban
“Esensi puasa, baik di bulan Ramadan maupun masa Prapaskah, adalah pengendalian diri dan empati,” ujarnya di Jakarta pada Selasa, 17 Februari 2026.
“Ini adalah momentum bagi kita untuk memperkuat Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa),” tambahnya.
Fenomena langka ini menjadi pengingat penting bahwa keberagaman bukan hanya soal ritual, melainkan peluang untuk mempererat toleransi, membangun empati, dan memperkuat nilai persaudaraan.
Di tengah perbedaan, masyarakat dapat melihat bagaimana tradisi yang berbeda bisa saling melengkapi dan menciptakan harmoni sosial, sekaligus memperkaya wawasan budaya dan spiritual di Indonesia.***
Artikel Terkait
ESAI : Membangun kesadaran toleransi dikalangan pelajar, membuka jalan menuju masyarakat harmonis
Hari Toleransi Internasional, menghargai keanekaragaman dalam kesatuan
Toleransi, fondasi harmoni dalam kehidupan masyarakat
29 April, Perayaan Hari Tari Internasional, sebuah perayaan keberagaman dan ekspresi kreatif
10 Ucapan selamat Hari Raya Idul Adha 2025, penuh doa dan makna untuk dibagikan
Lelah makan mi di pengungsian, sepiring nasi Padang jadi 'hari raya' bagi korban banjir Aceh Tamiang
Bukan sekadar simbol, toleransi lintas agama di Dusun Thekelan hidup sebagai tradisi turun-temurun