Bukan sekadar simbol, toleransi lintas agama di Dusun Thekelan hidup sebagai tradisi turun-temurun

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Jumat, 26 Desember 2025 | 20:35 WIB
Warga Dusun Thekelan, Kabupaten Semarang yang viral karena toleransinya saat Natal 2025 (Instagram/azmi_zami)
Warga Dusun Thekelan, Kabupaten Semarang yang viral karena toleransinya saat Natal 2025 (Instagram/azmi_zami)

GENMILENIAL.ID — Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terpotret dari Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, saat perayaan Natal 2025.

Di tengah banyaknya narasi tentang perbedaan, warga dusun ini justru menunjukkan bahwa toleransi dapat hidup dan tumbuh secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

Momen tersebut viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan warga Dusun Thekelan yang beragama Islam dan Buddha berjajar rapi di depan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El Shaddai.

Mereka menunggu jemaat Kristiani menyelesaikan ibadah Natal, lalu menyambut dengan jabat tangan, pelukan hangat, serta ucapan selamat.

Baca Juga: Berstatus objek vital nasional, PT Dahana uji kesiapan karyawan hadapi skenario darurat

“Kamis, 25 Desember 2025, sejak pagi warga Dusun Thekelan berbondong-bondong menuju gereja,” tulis akun Instagram @azmi_zami dalam unggahannya yang dikutip Jumat 26 Desember 2025.

“Warga Muslim dan Buddha berdiri rapi di depan gereja, menunggu umat Kristen menyelesaikan ibadah untuk kemudian memberikan ucapan selamat. Jabat tangan, pelukan hangat, dan suasana haru menjadi pemandangan yang begitu alami,” lanjut keterangan tersebut.

Toleransi yang dirawat dari generasi ke generasi

Bukan kali pertama momen ini terjadi. Unggahan tersebut mengungkapkan bahwa sikap saling menghormati antarumat beragama di Dusun Thekelan telah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Banjir Sungai Ciasem kembali terulang, polisi tekankan respons cepat dan kewaspadaan warga bantaran sungai

“Di Dusun Thekelan, toleransi hidup sebagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” tulis pemilik akun.

Ia menjelaskan, setiap kali ada perayaan hari besar keagamaan, warga setempat akan menghentikan aktivitasnya dan berkumpul untuk saling menghormati satu sama lain, tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Menurutnya, kerukunan di dusun tersebut tidak dibangun untuk pencitraan, melainkan telah menjadi bagian dari cara hidup masyarakat sehari-hari.

“Kerukunan dijalani bukan sebagai simbol, melainkan sebagai cara hidup,” ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X