Krisis air bersih menjadi tantangan utama. Para ibu mengandalkan dapur umum untuk memasak, sementara warga laki-laki bergotong royong membangun pipanisasi agar air mengalir ke seluruh camp.
“Ini bapak-bapak masih ngerjain pipanisasi untuk penyaluran air, pokoknya semua di sini kita kerjakan apa yang masih bisa diusahakan,” ujarnya.
Camp pengungsian Desa Delung Sekinel menjadi bukti nyata ketahanan komunitas dan solidaritas warga pasca-bencana, sekaligus menyoroti pentingnya dukungan logistik dan fasilitas darurat bagi penyintas banjir bandang dan tanah longsor.***
Artikel Terkait
Pengungsi Aceh jamui relawan dari dapur umum, kisah berbagi di tengah duka banjir bikin haru
Bikin haru! Kepolosan bocah pengungsi Aceh Tamiang lompat kegirangan saat dapat bantuan baju baru
Tanpa bangku dan kursi, anak-anak pengungsi di Aceh Tengah tetap belajar di sekolah darurat pascabanjir
Ingin bakso dan rendang, curhatan dua bocah pengungsi Aceh Tamiang ini bikin warganet terharu
Kehilangan rumah akibat banjir, bocah pengungsi Aceh ini tak minta mainan: Aku mau ngaji
Viral kebaikan pengungsi Aceh, berbagi rambutan untuk relawan di tengah musibah
Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om