“Iya, rumahnya tinggal seng,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Ungkapan itu merujuk pada kondisi rumah mereka yang hancur total, hanya menyisakan lembaran seng atap di antara tumpukan puing dan lumpur. Tak ada lagi dinding, perabot, atau ruang bermain yang biasa mereka tempati.
Tetap ceria meski kehilangan segalanya
Yang paling menyentuh, meski kehilangan rumah dan barang-barang pribadi, anak-anak tersebut tetap menunjukkan semangat hidup yang luar biasa.
Saat ditanya mengenai kondisi mereka saat ini, tak terlihat raut kesedihan mendalam di wajah mereka.
Dengan suara lantang dan serempak, mereka menjawab singkat namun penuh energi.
“Sehat,” ucap anak-anak itu sambil tersenyum.
Jawaban sederhana tersebut seolah menjadi simbol kekuatan anak-anak Aceh Tamiang dalam menghadapi kenyataan pahit akibat bencana.
Harapan di tengah kehancuran
Ketegaran anak-anak korban banjir ini menjadi pengingat bahwa bencana tak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan kisah kemanusiaan yang kuat.
Di balik rumah yang kini hanya tersisa seng, masih ada harapan dan semangat untuk memulai kembali.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, senyum mereka menjadi cahaya kecil yang menguatkan, bahwa masa depan tetap bisa dirajut kembali, meski harus dimulai dari nol.***
Artikel Terkait
Warga Aceh di tengah banjir tunjukkan solidaritas untuk Gaza, ungkap kesedihan yang lebih besar
Jembatan putus, Desa Sekumur Aceh Tamiang terisolasi: Warga tinggal di terpal dan butuh tenda layak
Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om
Krisis air bersih pascabanjir, warga Aceh Tamiang terpaksa gunakan air sumur keruh demi bertahan hidup
Perjuangan relawan tembus jalur putus di Bener Meriah demi antar logistik korban banjir: Sedih lihat warga jalan kaki cari makan
Malam mencekam di Kota Lintang Bawah Aceh Tamiang: Warga tidur di atas balok kayu dan minum air lumpur demi bertahan hidup
Modal lampu mobil, warga Desa Pematang Durian Aceh Tamiang gotong royong buka akses jembatan tertimbun lumpur