Dengan suara lirih, anak-anak itu menceritakan perasaan mereka saat melihat kampung halaman yang kini hanya menyisakan puing dan lumpur.
Baca Juga: Gelondongan kayu raksasa terdampar di Aceh Tamiang usai banjir bandang, warganet heboh
“Terpukul, kenapa rumah saya tidak ada lagi,” kata salah satu bocah.
“Sakit hati, karena rumah-rumah orang sudah tidak ada lagi,” sambung anak lainnya.
Bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi ruang kenangan, tempat bermain, dan simbol rasa aman yang kini sirna dalam sekejap.
Tak minta mainan, bocah ini pilih Al-Qur’an
Momen paling menggetarkan hati terjadi saat anak-anak tersebut ditanya mengenai keinginan mereka.
Baca Juga: BIB Lembang perkuat ketahanan pangan lewat penanaman hijauan dan jagung di Paseh Subang
Di tengah keterbatasan dan duka, permintaan yang keluar justru jauh dari bayangan kebanyakan orang.
Alih-alih meminta mainan atau hiburan untuk mengusir kesedihan, seorang bocah dengan mantap mengungkapkan keinginannya.
“Al-Qur’an, aku enggak minta mainan, mau ngaji,” ucapnya.
Ucapan sederhana itu sontak menyentuh hati warganet. Di tengah kehilangan rumah dan masa kecil yang terguncang, bocah tersebut memilih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai penguat batin menghadapi musibah.
Keteguhan di tengah bencana
Kisah ini menjadi pengingat bahwa bencana tak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga ujian mental dan spiritual, terutama bagi anak-anak.
Artikel Terkait
Harga cabe anjlok pascabencana, influencer Amien Ashal borong dagangan pedagang di Takengon dengan harga Medan
Ferry Irwandi ungkap fakta lapangan pascabencana Sumatera, salurkan donasi Rp10 miliar untuk korban
Ingin bakso dan rendang, curhatan dua bocah pengungsi Aceh Tamiang ini bikin warganet terharu
Dua butir telur dibagi untuk 23 orang, kisah warga Aceh Tamiang bertahan hidup tiga hari pascabanjir
Danantara Indonesia dan BP BUMN kerahkan 1.066 relawan dan 109 truk bantuan untuk tanggap bencana di Sumatera
Gelondongan kayu raksasa terdampar di Aceh Tamiang usai banjir bandang, warganet heboh
Akhir penantian 14 hari: Wanita di Sibolga akhirnya temukan jasad orang tua tertimbun longsor