Baca Juga: Wamenaker Noel bantah OTT KPK dan kasus pemerasan, tapi KPK sebut terima uang Rp3 miliar
“Kita tampilkan narasumber yang selama ini berada di ruang sunyi. Subang Nyastra jadi ruang bergerak bersama, menghidupkan tradisi sastra. Ini baru Volume 4, dan akan terus berlanjut,” jelasnya.
Bincang sastra berjalan interaktif, dengan pembacaan puisi dan tanya jawab peserta.
Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan Pentas Sastra yang menghadirkan Musik Etnik Animanis, Teater Main Gesit, Teater Bengkel 79, Teater Tigas, LESBUMI PCNU Subang, Tunas Musik Subang, Ambek Adil Paramarta, MTSS Cibogo, dan Subang Music School.
Acara ini disambut antusias oleh peserta, sekaligus menjadi bukti bahwa sastra masih memiliki tempat penting sebagai ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa.
Kegiatan Subang Nyastra Vol.4 ini juga terselenggara berkat dukungan dari RTA Sound dan Rap Lighting.***
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Ada apa dengan karya sastra dan pembelajaran Bahasa Indonesia?
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center