"Thank you for always being my rainbow after the storm."
Sastra sebagai cermin sosial dan historis
Lebih jauh, Yanuardi menekankan bahwa sastra Persia harus dibaca sebagai dokumen sosial, bukan semata kumpulan kata-kata indah.
“Ia mencerminkan dinamika masyarakat, relasi kuasa, dan pencarian makna eksistensial manusia Persia sepanjang zaman,” tegasnya.
Dalam pusaran geopolitik dan stigma yang sering melekat pada Iran sebagai negara 'bermasalah,' sastra Persia justru memperlihatkan sisi lain, bahwa di sana pernah dan masih terus tumbuh peradaban kata, cinta, dan cahaya ilmu.***
Artikel Terkait
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Konflik Iran-Israel dan arsitektur baru Timur Tengah: Perspektif peneliti UI
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah