Baca Juga: Bawa pesan Prabowo, Cak Imin jabat tangan dengan Paus Leo XIV di Vatikan
Ketika banyak tokoh terbuai euforia kekuasaan, Syahrir justru menarik diri ke ruang perenungan. Ia menulis kepada kawan seperjuangan:
“Lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan arah. Lebih baik sunyi dalam nurani, daripada riuh dalam kebencian.”
Hari ini, ketika kita melihat kekerasan masih sering dibungkus dengan jargon perjuangan, kita sepatutnya menoleh pada suara Syahrir.
Ia mengingatkan bahwa revolusi sejati adalah revolusi nilai, perjuangan membentuk manusia baru, bukan sekadar mengganti penguasa lama.***
Artikel Terkait
Sutan Syahrir, pemikir revolusioner yang melawan penjajah
Figur politik penting dalam perjalanan Indonesia, Soekarno, Sutan Syahrir, dan H Agus Salim
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Sutan Syahrir: Pemikir sunyi di balik proklamasi kemerdekaan
Syahrir dan dunia internasional: Diplomasi sebagai jalan kemanusiaan