Baca Juga: Sinergi jadi kunci, Kang Akur ajak KONI Subang solid songsong Porprov Jabar 2026
Sebagai pendidik SMA, saya baru saja mengikuti workshop Direktorat SMA Kemendikdasmen yang gencar mengarusutamakan STEM yakni sains, teknologi, engineering, dan matematika.
Saya sempat bersuara. Mengapa rekan-rekan pendidik hanya berfokus pada STEM, bukankah seharusnya STEAM?
Bukankah dalam pidato pembukaan dari Direktur SMA disebutkan STEAM, bukan hanya STEM, ada unsur A, art?
Kita ingin meningkatkan literasi bangsa, melatih problem solving, dan menjawab tantangan zaman.
Baca Juga: Gelondongan kayu bekas banjir terbakar di Aceh Utara saat dini hari, warga berhamburan ke lokasi
Itu penting. Namun jika hanya STEM, kita berisiko mencetak generasi yang cakap menyelesaikan soal, tetapi gagap merasakan luka orang lain.
Martha Nussbaum menulis bahwa pendidikan humaniora penting karena melatih imajinasi naratif, kemampuan untuk membayangkan kehidupan orang lain.
Ia mengatakan, 'Tanpa imajinasi simpatik, kita tidak dapat melihat dunia dari sudut pandang orang lain.'
Jika sekolah hanya mengasah logika teknis tanpa estetika dan empati, kita mungkin menghasilkan banyak insinyur, tetapi sedikit manusia bijak.
Padahal problem terbesar hari ini bukan kurangnya undang-undang, melainkan keserakahan dan tumpulnya nurani.
Diskusi seni seperti malam ini menjadi koreksi kecil terhadap arah zaman yang terlalu utilitarian. Kita diingatkan bahwa hidup bukan sekadar efisiensi, melainkan makna.
Bahwa kota bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga infrastruktur batin. Bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca data, tetapi juga membaca kemanusiaan.
Saya membayangkan jika setiap minggu di Madiun ada forum bedah karya, dialog budaya, atau kajian seni. Para pelajar bisa datang, mendengar perdebatan, melihat bahwa gagasan diperlakukan serius.