esai

ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:20 WIB
Shal Shalihah (kiri) membedah prosa Perempuan yang Datang Ketika Hujan karya Fileski W. Tanjung (kanan) dalam forum diskusi Rusa Terbang Project di I-Club, Kota Madiun, Sabtu 14 Februari 2026, yang menegaskan pentingnya ruang dialog kebudayaan di tengah geliat kota

Sabtu malam, 14 Februari 2026, pukul 19.00 WIB, di I-Club, Jalan Bali Nomor 17, Kota Madiun, sebuah peristiwa kecil namun penting sedang berlangsung.

Komunitas Rusa Terbang Project, dengan produser Dwi Kartika Rahayu, menggelar diskusi bertajuk Bedah Karya Sastra Alih Wahana Seni Rupa: Menyibak Tenunan Kata.

Prosa saya, 'Perempuan yang Datang Ketika Hujan', yang pernah dimuat di Suara Merdeka, menjadi pintu masuk percakapan.

Namun sesungguhnya yang dibedah malam itu bukan hanya teks, melainkan kesadaran kita sebagai warga kota yang terlalu lama membiarkan ruang intelektualnya lengang.

Baca Juga: Dony Ahmad Munir resmi gabung Gerindra, perkuat sinergi pusat dan daerah di Sumedang

Diskusi ini lahir dari keresahan. Di Madiun, kota yang gemar mengusung jargon 'mendunia', percakapan tentang karya kerap kalah nyaring oleh kabar-kabar politik yang remeh dan cenderung voyeuristik.

Energi publik habis untuk membicarakan selingkuhan pejabat, aib personal, dan gosip yang tak menyentuh kebermanfaatan sosial.

Para kreator, akademisi, dan seniman pun, tanpa sadar, ikut terseret arus. Kita lebih sibuk menjadi komentator peristiwa daripada penafsir makna.

Padahal, kota-kota yang benar-benar mendunia justru berdiri di atas tradisi dialog kebudayaan yang kuat. Paris tak bisa dilepaskan dari kafe-kafe tempat sastrawan dan filsuf berdebat.

Baca Juga: Kakek Rasil di Polewali Mandar menangis, tabungan Rp10 juta ikut terbakar saat rumah hangus

Yogyakarta hidup oleh denyut diskusi seni yang hampir tak pernah padam. New York City menjadi pusat dunia bukan hanya karena finansialnya, tetapi karena galeri, teater, dan ruang-ruang kritiknya.

Berlin membangun reputasi globalnya melalui festival, pameran, dan forum intelektual yang konsisten. Kota-kota itu memahami satu hal, kebudayaan bukan dekorasi, melainkan fondasi.

Madiun memiliki banyak komunitas seperti KOSAMARA, JKM, Gusdurian, Epicentro, dan lainnya. Namun intensitas dialog masih terasa jarang.

Rusa Terbang Project mencoba mengisi celah itu. Komitmen untuk rutin menggelar diskusi dan bedah karya adalah ikhtiar sederhana, tetapi strategis.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB