esai

ESAI: Kartini dan perempuan hari ini: Refleksi dari masa lalu untuk masa depan

Senin, 21 April 2025 | 18:07 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap Raden Ajeng Kartini—seorang perempuan ningrat Jawa yang melampaui zamannya melalui pemikiran dan perjuangan literasinya.

Kartini tidak hanya dikenal sebagai simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang kritis terhadap struktur sosial, budaya, dan pendidikan yang timpang, khususnya bagi kaum perempuan pada masa kolonial.

Kartini lahir dalam lingkungan aristokrasi Jawa, sebuah dunia yang penuh aturan, batasan, dan simbolik kekuasaan patriarki.

Meski mendapatkan pendidikan formal di sekolah Eropa (ELS), perjalanan intelektualnya lebih banyak terbentuk dari proses membaca dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.

Baca Juga: Kilometer pertama Subang Leucir: Jalan rusak puluhan tahun akhirnya dibeton

Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan kegelisahan atas sistem feodal dan kolonial yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap, tanpa hak atas pendidikan maupun kebebasan berpikir.

Pemikiran Kartini bukan sekadar bentuk perlawanan individual, melainkan juga bagian dari kesadaran sosial yang tumbuh dalam konteks awal kebangkitan nasional.

Kartini menulis tentang pentingnya pendidikan perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa, dan hal ini selaras dengan gagasan modernisme awal di Hindia Belanda, di mana keterdidikan menjadi salah satu kunci kemerdekaan intelektual.

Dalam konteks kontemporer, warisan pemikiran Kartini tetap memiliki relevansi kuat.

Data dari BPS dan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa meskipun capaian perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan dan profesi telah meningkat signifikan, ketimpangan masih terjadi.

Baca Juga: Vatikan ungkap permintaan Paus Fransiskus, ingin pemakamannya dilakukan dengan sederhana

Perempuan masih mengalami diskriminasi di dunia kerja, kekerasan berbasis gender, serta beban ganda dalam ranah domestik dan publik.

Selain itu, tantangan baru muncul dalam bentuk kekerasan digital dan representasi perempuan yang bias dalam media sosial.

Oleh karena itu, memperingati Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni mengenakan kebaya atau menyanyikan lagu-lagu penghormatan.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB