Theo mengaku, sejak kecil dirinya tidak dibiasakan untuk berpikir soal investasi. Pola pikir yang tertanam justru sebatas bertahan hidup dari gaji ke gaji.
“Saya dibesarkan dengan mindset, enggak apa-apa enggak investasi, yang penting cicilan aman, gaji cukup,” tuturnya.
Baca Juga: Rizky Ridho bidik trofi Piala AFF 2026, optimistis meski bukan agenda FIFA
Namun, pandangan itu berubah ketika ia melihat bagaimana keluarga lain membiasakan anak-anaknya berbicara tentang investasi sejak dini.
“Teman-teman saya ada yang dari kecil sudah diajari investasi. Bahkan kalau mau berutang pun, itu untuk pengembangan bisnis, bukan konsumsi,” jelasnya.
Akar masalah sandwich generation
Menurut Theo, perbedaan pola pikir inilah yang pada akhirnya melahirkan fenomena sandwich generation di Indonesia.
Lingkungan yang tidak mengenalkan literasi finansial sejak dini membuat seseorang tumbuh tanpa persiapan finansial jangka panjang, sehingga ketika dewasa harus menanggung beban keluarga secara bersamaan.
“Di situlah kelihatan jurang mindset-nya. Ada yang hidupnya siap secara finansial, ada yang terus bertahan dari bulan ke bulan,” ujarnya.
“Dan itulah kenapa di negara kita, fenomena sandwich generation sangat banyak,” tambah Theo.
Ia menegaskan, persoalan ini bukan semata soal siapa yang rajin bekerja, tetapi tentang bagaimana seseorang sejak kecil dibentuk cara berpikirnya terhadap uang, investasi, dan masa depan.***