“Sastra bisa menjembatani itu, tapi kita harus menyajikannya dengan cara yang lebih kontekstual, lebih bermakna, dan menyenangkan.” tambahnya.
Ia menyebut pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP sudah sering mencoba berbagai pendekatan seperti diskusi kelompok, analisis teks, membuat karya seni terinspirasi sastra, hingga pemanfaatan aplikasi digital.
Baca Juga: Multifungsi dan murah, dua lip cream ini bisa jadi eyeshadow untuk tampilan sat-set
Namun jika hanya menjadi rutinitas tanpa pemaknaan mendalam, maka proses ini pun tak meninggalkan bekas di hati anak.
Ucu merinci sejumlah tantangan dalam pembelajaran sastra di sekolah:
- Kurangnya minat baca dan daya tarik terhadap buku sastra
- Sulitnya memahami bahasa sastra yang tidak sehari-hari
- Minimnya koleksi buku sastra di perpustakaan sekolah
- Dominasi gawai dan hiburan visual yang lebih menarik
- Kurangnya peran aktif orang tua dalam mendukung literasi anak
Baca Juga: Kompor induksi premium vs ekonomis, ini perbandingan fitur dan kegunaannya
Semua ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Bukan hanya bagi guru Bahasa Indonesia, tetapi juga orang tua, pengelola sekolah, dan pemangku kebijakan.
Merdeka belajar, merdeka menikmati sastra
Dalam konteks Hari Kemerdekaan, pembelajaran sastra di sekolah dapat menjadi bagian dari upaya merebut kembali makna 'merdeka belajar'.
Kemerdekaan tidak hanya diartikan sebagai kebebasan berpikir, tetapi juga kemampuan menyelami nilai-nilai kebangsaan yang hidup dalam cerita-cerita rakyat, perjuangan tokoh-tokoh fiktif maupun nyata, serta puisi-puisi tentang tanah air.
“Karakter peserta didik bisa dibangun lewat penghayatan nilai-nilai dalam sastra. Tapi prosesnya harus dilakukan dengan penuh kesadaran (mindful), kebermaknaan (meaningful), dan tentu saja menyenangkan (joyful),” tegas Ucu.
Baca Juga: Terseret kampanye negatif, merek deodoran asal Denmark resmi hengkang dari Indonesia
Sastra tak lagi boleh dianggap sebagai pelengkap dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ia adalah ruang untuk membentuk jiwa.
Di sanalah anak-anak belajar menangis, tertawa, dan membuat pilihan dengan nurani. Dan barangkali, dari sana pula, akan tumbuh generasi merdeka, yang berpikir kritis, berempati, dan mencintai bangsanya.***
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern